Home / KEMAT / Parangkusumo-6: Sebuah Kesepakatan Mistik

Parangkusumo-6: Sebuah Kesepakatan Mistik

Tali batin antara Keraton Mataram yang didirikan Panembahan Senapati dengan Bale Sokodhomas yang dipimpin Kanjeng Ratu Kidul, teranyam setelah peristiwa tapa ngeli yang membuat gempar istana Segara Kidul.

Saat itu, Senapati yang tengah menguji ketajaman hatinya (untuk menyempurnakan legitimasi gaib sebagai ratu) bertapa dengan cara menghanyutkan diri di sungai Opak.

Maka begitulah. Saat sampai di tempuran, pertemuan dua arus antara sungai Opak dan Gajah Wong, terjadi peristiwa mistik yang besar. Arus tempuran yang tidak jauh dari Parangkusumo itu, tiba-tiba bergolak. Begitupun ombak pantai selatan. Suasana tintrim, mengalirkan rasa takut, tak ubahnya detik-detik menjelang goro-goro.

Gejolak alam di gerbang istana pantai selatan itu, mengundang sang ratu. Segeralah terjadi komunikasi gaib penguasa Mataram dan Segara Kidul itu. Di sanalah, lahir kesepakatan abadi; Bale Sokodhomas menyokong kekuasaan Mataram dengan menjadikan Kanjeng Ratu Kidul istri raja Mataram.

Jadilah hingga kini, Kali Opak adalah simpul mistik antara Laut Selatan, Keraton Mataram, dan Gunung Merapi. Laut Kidul sebagai penyangga alam gaib di bagian selatan serta Gunung Merapi pusat kekuatan gaib di utara, ditali-eratkan oleh Kali Opak. Orang-orang tua percaya (sementara yang muda hanya sayup-sayup mendengar cerita) bahwa Opak merupakan jalan tanpa penghalang pasukan makhluk halus Laut Kidul dan Gunung Merapi.

Masyarakat di sekitar Kali Opak, masih meyakini, pada saat-saat tertentu, akan terdengar suara riuh di sepanjang kali. Itulah, gemuruh pasukan dua penguasa alam gaib tersebut, yang sedang berpawai. Lampor sebutan mistiknya.

Nama Opak, yang diabadikan untuk sungai tua itu, juga berawal dari kisah beraroma mistik, tentang seekor ular raksasa. Perjalanan menyisir air, dari selatan ke utara, membuat ular misterius itu, bagai anak yang kebingungan. Sepanjang sungai, ia merintih; o pak…o pak…o pak…

Memang, sang mahanaga itu, sedang mencari orangtuanya. Ayah yang telah membuatnya terlahir. Konon, ular ini akhirnya bertemu ayahnya, yang segera menitahkan untuk menjaga Gunung Merapi. Tubuh ular, melingkar, menjaga Merapi agar berhenti goyah. Namun pada saat-saat tertentu, Merapi tetap goyah, mencipta gempa. Itulah tandanya, ular penyangga tubuh Merapi sedang menggeliat.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.  Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *