Home / KANGBARNO / Mengenal Kiai Jombok, Empu Sakti Leluhur Jombokan

Mengenal Kiai Jombok, Empu Sakti Leluhur Jombokan

Nama Kiai dan Nyai Jombok diabadikan menjadi sebuah nama dusun yaitu Jombokan.  Konon menurut cerita Simbah  beliau adalah suami-istri yang berprofesi sebagai empu pembuatan keris pada jaman kerajaan Mataram Sultan Agung.

Memang, saat itu, kebutuhan senjata untuk perang sangat tinggi. Sebab, Kanjeng Sultan Agung sedang menghadapi banyak peperangan. Dan fungsi keris sebagai “sipat kandel” atau “piandel”  membuat Keraton menempatkan seseorang pada kedudukan tertentu yang divisualisasikan dengan memberikan keris. Itu yang menyebabkan kedudukan Empu menjadi status sosial yang tinggi di masyarakat.

Di banyak tlatah di bawah tahta Mataram, muncul empu-empu sakti. Mereka berasal dari keluarga empu di masa lalu yang akibat kerajaannya kalah perang ikut menyingkir dan tenggelam menjadi rakyat biasa. Juga Kiai Kerto Jombok.

Meski kesehariannya hidup menjadi petani, ada yang tidak biasa pada Kiai Jombok yang ternyata  juga bisa membuat peralatan dari besi. Saat itu sang kiai tidak membuat keris melainkan alat-alat pertanian bagi masyarakat sekitarnya seperti, bajak atau ”singkal” pacul, arit. Bapang, pisau, Ani Ani dan sebagainya.

Kemampuan tak biasa Kiai Jombok yang selama ini dianggap petani, mulai menyebar. Lalu, datang bangsawan Mataram yang diam-diam memesan sebilah keris. Dari sinilah, masyarakat di sekitar kediaman Kiai Kerto Jombok mengetahui sejarah hidup orang yang dihormatinya itu.

Seperti umumnya para empu, untuk membuat keris, harus melewati “laku khusus”. Tujuannya, agar karyanya mempunyai tuah dan pamor. Laku tersebut diantaranya bertapa agar mendapat benda dari langit berupa batu meteor. Selama proses pembuatan dilakukan sambil menjalani puasa. Dan pada proses penyelesaian dilakukan proses “penyepuhan” dengan ritual khusus.

Konon menurut cerita, Kiai Jombok dan Nyai Jombok mempunyai hewan peliharaan berupa dua ekor harimau. Tugas hewan ini adalah untuk nyepuh keris dengan cara menjilati ujung keris yang tajam, agar Tuah keris berwibawa, menakutkan seperti Harimau. Cara menyepuh keris ini ketika pembakaran terakhir keris panas merah membara kemudian dipanggillah Kiai Condromowo untuk menjilati besi panas tersebut.

Agar hewan peliharaan ini tidak membuat takut warga masyarakat sekitar maupun tamu yang memesan keris, maka diceritakan bahwa Nyi Jombok memelihara kucing “Kiai Condromowo” dengan menyebut harimau sebagai “kucing” maka warga masyarakat sekitar tidak ketakutan.

Kiai Kerto Jombok dan Nyai Kerto Jombok dimakamkan di makam Bujidan, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. DIY. Nama Komplek pemakaman ini juga dijadikan sebagai nama dusun secara resmi sebagai Dusun Bujidan dengan dukuh sebagai kepala wilayah.

Sedangkan kuburan hewan peliharaan berupa harimau yang disebut sebagai kucing dikuburkan di luar komlek makam Bujidan tepatnya di sebelah timur laut makam dan dilingkari dengan bangunan tembok seluas sekitar 3X3 meter.

Nyai Jombok sendiri lebih terkenal sebagai empu, karena sepeninggal Kiai Kerto Jombok, sang istri tetap melanjutkan pekerjaan Kiai Jombok sebagai empu pembuat keris, sampai akhir hayatnya.(stmj)

About redaksi

Check Also

Sugeng Tindhak Bopo MT  MT Arifin

Rabu, 9 September 2020, menjadi hari berduga bagi para penggiat budaya. Sebab hari itu, budayawan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *