Home / KEMAT / Menelusuri Jejak Kamasutra Jawa di Buku-buku Kuno

Menelusuri Jejak Kamasutra Jawa di Buku-buku Kuno

Benar. Ini adalah Kamasutra Jawa. Karena bersumber dari kitab-kitab tua yang menjadi ajaran luhur para leluhur. Sebuah warisan budaya, warisan pekerti, serta ilmu pengetahuan yang tak kalah hebat dari tinggalan bangsa lain.

Semua dimulai dengan cara yang baik. Itulah petujuk dasar yang diyakini akan memberi buah yang juga ikut baik. Bagi orang Jawa, saresmi tidak sekadar aktivitas badani, kepuasan syahwat, atau proses metabolisme tubuh. Berhubungan badan, terutama berkaitan dengan soal-soal luhur. Itu, yang membuatnya, terasa indah jika dilakukan berdasar pitutur atau ajaran-ajaran luhur.

Secara umum, berbagai pitutur tentang norma berhubungan badan, dapat dilihat dalam beberapa serat lama. Terutama Serat Gatoloco, Darmagandhul, Centhini, dan Serat Nitimani.

Bagi priyayi Jawa pengetahuan dalam soal kamasenggama adalah kesemestian. Sebab inilah awal dari segalanya. Pengetahuan yang baik, dengan menjalani segala ritual dan pantangannya, akan mengasilkan sesuatu yang juga baik.

Jika prosesnya sudah salah, maka akibat yang ditimbulkan akan buruk, bukan hanya bagi anak yang dihasilkan tetapi bagi keseimbangan serta keselarasan kehidupan ini. Orang Jawa yakin, salah dalam berhubungan badan, hanya mengakibatkan  kama salah. Inilah yang menjadi musabab kesalahan-kesalahan selanjutnya.

Larangan melakukan hubungan badan dengan sembarangan, berkaitan dengan menjaga batin secara menyeluruh. Termasuk harmoni hidup. Pedoman moral, nilai dan kaidah bagaimana cara melakukan hubungan seks yang benar dan tepat, menjadi ajaran luhur. Sehingga dituturkan dam banyak pitutur.

Serat Nitimani adalah salah satu karya yang banyak mengupas soal ini. Misalnya dalam pupuh 2 ditulis kalimat, lamun tandhing, marsudya ing tyas ening, namrih ering, kang supadi tan kajungking (apabila sedang bertanding, usahakanlah hati tetap hening, agar konsentrasi tetap terjaga, supaya tidak terkalahkan).

Kata bertanding dalam bait itu, tentu maksudnya bercinta dengan pasangannya. Kalimat selanjutnya melukis akibat jika ceroboh dalam berolah asmara. Apabila ceroboh, waspadalah jangan sampai lengah, sungguh sangat menyakitkan.

Seandainya pun tidak puas, jangan diperlihatkan, tutupilah, dengan wajah yang ceria, agar  tidak mendapat kesulitan. Apabila kecewa, jangan  membrontak dalam hati, niatilah, untuk marah. Sebab bersikap lapang dada,  ketidakpuasan tidak berlarut-larut. Jika  berada dalam kenikmatan berhubungan, kewaspadaan dan kesadaran diri haruslah tetap dijaga, supaya tidak menemui dijemput maut.(*)

 

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.  Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *