Home / KEMAT / Meneliti Misteri Keris Rejang Landep

Meneliti Misteri Keris Rejang Landep

Enjang meniko, Selasa Pon, 28 Syawal 1952 tahun Jawi, nyarengi wuku Warigalit ing mongso karolas utawi asuji, diskusi Perkumpulan Tosan Aji Brajabumi, sampun regeng tur gayeng. Bab wingit ingkang dipun onceki injih meniko keris Rejang Landep.

Diskusi virtual di WAG menjadi sangat bermanfaat, karena keris ini agak jarang dibicarakan. Banyak yang menghindari, karena dianggap sebagai yang kurang baik. Memiliki keris Rejang Landep, justru membawa suasana batin panas.

“Jimatan pamor Rejang Landep Keris dengan Pamor Rejang Landep bagi orang tertentu diyakini mempunyai tuah yang kurang baik untuk pemiliknya, karena diyakini memilik aura yang membuat pemiliknya sering masuk ke dalam alam sengketa dan misunderstanding. Meski demikian, ada masyarakat yang menyimpan Keris dengan pamor Rejang Landep dengan tujuan, jika suatu saat dia melakukan suatu kesalahan, dia bisa terhindar dari hukuman. Wallahu a’lamu bisshowab,” kalimat Ki Tas Mono inilah yang mengawali diskusi pagi.

Segera, tema menarik itu, disambut oleh Ki Setyo Budi, Ketua Umum Perkumpulan Tosan Aji Brajabumi. Menurutnya, keris Rejang Landep, banyak dihindari oleh sementara kalangan. Meskipun demikian, beberapa pecinta keris, justru mencarinya.

“Sepertnya tidak beda dengan keris Pamengkang Jagad. Sebagian menghindari, namun sebagian ingin memiliki,” kata Ki Setyo yang selalu antusias setiap mendiskusikan kekayaan keris yang semua penuh makna.

Pertanyaan yang menggelitik dilemparkan oleh Om Mamo. Pertanyaan tentang penamaan keris karena masih ada dua nama yang diperdebatkan. “Ingkang leres Rejang landep nopo Nrajang landep den?” tanyanya.

Keris ini memang penuh kontroversi. Selain banyak dihindari tapi banyak dicari, penamaannya juga didasarkan dua versi. Ada yang menyebut  Rejang Landep, tapi tidak sedikit yang menamai Nrajang Landep.

“Sebagian besar menyebut Rejang Landep, hanya yang perlu dikoreksi ini bukan jenis pamor. Rejang Landep juga bukan  nama dapur keris. Itu hanya semacam penamaan bagi alur pamor keris yang ujungnya keluar dari bilah keris. Nah karena ujung pamor ini keluar dari bilah sebagian ada yang menyebut Nrejang atau keluar dari bilah Keris yang Landep,” jelas Ki Setyo.

Rejang atau Rajang, tambah Ki Setyo Budi yang juga budayawan Ambal, memiliki persamaan makna memotong / menigas / nrajang / keluar garis. Devinisi seperti itu, juga sama dengan yang diyakini Empu Totok Brojodiningrat, tokoh keris dari Surakarta.

“Sampun Trep sanget andharanipun bab pamor punika kangmas,” tutur Empu Totok yang dikenal tokoh perkerisan Indonesia, pelestari, peneliti, serta memiliki padepokan keris Brojodiningrat Surakarta.

“Sewu Sewu agunging pangapunten bilih wonten kekiranganipun RokoMas Empu Totok Brodjodiningrat. Bekti Kulo konjuk.Rahayu…” jawab Ki Setyo

“Kados ingkan sampun kula aturaken ing nginggil, sampun trep sanget andharan panjenengan kangmas,” tambah Empu Totok yang banyak tampil dalam berbagai forum perkerisan tingkat nasional maupun internasional.(kib)

About redaksi

Check Also

Ini Keris Singo Barong yang Mencorong

Orang mengenalnya dengan baik nama keris Singo Barong. Inilah istilah yang paling populer dan paling …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *