Home / KANGBARNO / Mbah Amat Memasuki Masa Lansia

Mbah Amat Memasuki Masa Lansia

Sungguh. Diam sendiri tentu tidak perlu berlama lama. Rasa ingin bertemu dengan Ki Bawang tentu sudah sangat mendesak. Selama beberapa hari Mbah Amat tidak berjumpa dengan sohibnya tentu akan menambah gairah baru.

Sungguh dalam hidup ini butuh teman dalam berbagi, butuh teman dalam menapaki perjalanan hidup di dunia ini. Mungkin sepuluh, duapuluh, tiga puluh tahun selalu terulang seperti terlahir kembali. Dan itulah indahnya berteman, karena untuk bisa berteman butuh penyesuaian. Apalah artinya jika hanya sendiri atau menyendiri

Ki Bawang sebagai seorang yang menjadi tua tentu menyadari bahwa pikiran harus sumeleh, tidak ngaya, tidak ngangsa dalam meraih cita-cita dunia. Ada saatnya menjadi lansia, menjadi manula. Namun Ki Bawang masih berharap menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat sekitar.

Masih mempunyai masa depan sebagai manusia yang bisa mandiri tidak merepotkan anak cucu, sanak kerabat. Masih produktif dalam berkarya. “Sebagai manusia lanjut usia kita harus tetap banyak belajar,’” kata Mbah Amat ketika sudah berhasil masuk di ruang tamu Ki Bawang.

Seperti biasanya Ki Bawang selalu standby di ruanganya. Duduk sendiri berdiam diri sambil masih terhidang teh panas dalam teko dan “nyamikannya” teman minum teh. Seperti terinspirasi simbah-simbah terdahulu. Jika sudah tua dan menjadi lansia hanya diam di rumah, duduk di emperan rumah sambil minum teh menikmati pemandangan depan rumah orang lalu lalang menjemput rejekinya.

“Haiyo…” jawab Ki Bawang yang sudah ditebak dalam hati Mbah Amat.

“Menjadi manusia tua adalah anugerah Yang Kuasa,” lanjut mbah Amat.

“Orang tua harus bisa menjembatani informasi masa lalu dan mentranformasikan kepada anak cucu generasi sekaran.”

“Haiyo…”

“Sebagai wong tuwa harus bisa uwur-uwur, sembur-sembur , tutur-tutur. Dan nguri-uri kebudayaan sendiri yang adi luhung. Uwur-uwur bisa memberi secara finansial maupun imateria, sembur-sembur yang artinya ucapanya berwibawa serta tutur-tutur yang artinya harus bisa memberi petunjuk kepada generasi muda tentang mana jalan yang aman dan mana jalan yang tidak aman, karena tentunya sebaga orang tua sudah banyak pengalaman dalam menapaki perjalanan hidup,” Kata Mbah Amat.

“Wah… nek itu yo berat,” jawab Ki Bawang.

“Yowis… kalau dirasa berat, sebaiknya tidak saya lanjutkan uraian saya,” kata mbah Amat.

Pembicaraan terhenti. Mbah Amat menuangkan teh panas kedalam cangkir berisi gula batu. Dan menikmatinya sambil mengambil nyamikan ceriping pisang kapok. Keduanya kemudian terdiam. (stmj)

About susilo -

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *