Home / KANGBARNO / Mantra Panembrama dari Sukma yang Bersahaja

Mantra Panembrama dari Sukma yang Bersahaja

Malam berderap randat. Perlahan. Penuh dengan penjiwaan. Selepas petang, suasana ayem mengalir sejak dari tratak hingga pendopo agung. Ada janur dan bau kemenyan yang sekilas menyentuh hidung. Entah siapa yang membakar kemenyan, tapi aromanya  memompa sukma.

Suara gemrenggeng serasa suara lebah mendengung, ikut mengalir perlahan. Sayup, gongso ditabuh dalam irama lambat, seperti satu-satu diketuk lembut bagai tanpa sentuhan.

Lalu, tetamu berdatangan. Suasana terasa hangat sekaligus sakral. Para pria yang berbaju Jawa jangkep, memandu tamu-tamu utama yang malam itu datang silih berganti. Pejabat-pejabat nasional juga sudah menempati kursi undangan khusus. Ada Sumarjono, Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan yang asli Dusun Nganjir, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap. Ada pula Raden Isnanta, Deputi Pembudayaan olahraga Kemenpora yang asli Kalibawang.

Profesor Bedjo Sujanto, mantan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dua perionde rawuh meski memasuki usia sepuh. Prof Bedjo lenggah berdampingan dengan Asda I Kulon Progo, Jumanto dan Ketua DPRD Kabupaten Kolon Progo, Akhid Nuryati.

Sementara itu, tamu yang datang dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga ada. Terlihat Ketua DPRD rawuh bersama tiga sejawatnya sesama Anggota DPRD Provinsi DIY.

Malam itu, malam resepsi Dwi Windu Badan Koordinasi Paguyuban Kulon Progo (Bakor PKP), memang terasa berbeda. Makanan mbanyu mili alias mengalir ganti-berganti. Ada jajan pasar, rebus-rebusan, serta tentu saja geblek dan tempe bacem yang merupakan makanan tradisional paling legendaris dari Kulon Progo.

Dan, setelah tetamu penting sudah lenggah sekeco serta tamu-tamu lain yang merupakan anggota paguyuban Kulon Progo mengisi semua tempat duduk, panembrama dimulai. Inilah mantra yang dipompa dari dasar sukma. Bukan sekadar bait-bait baik berisi ucapan selamat datang, tapi sekaligus doa-doa untuk keselarasan.

Ada 27 orang yang berpacak baris meniti panggung. Mereka adalah anggota Paguyuban Kulon Progo dan para pengurus Bakor PKP. Dibuka dengan bowo oleh Ki Bagas Giyanto, dalang ibukota yang asli Cerme, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo itu, panembrama mengudara.

Bowo sekar dandangulo dengan iringan gending Subokastowo, dilanjutkan dengan sprepeg rangu-rangu menggunakan laras slendro patet 9. (kib)

About redaksi

Check Also

Wargi 5 Pedukuhan Nyadran Wonten Ing Kramatan Kauman

Selepas siang, masyarakat Jombokan, Kopok Kidul, Bujidan, Soronanggan, dan Siluwok berkumpul di kramatan Kauman. Warga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *