Home / KEMAT / Ki Ageng Ngenis-3: Dipayungi Pohon Nagasari Digubet Beringin

Ki Ageng Ngenis-3: Dipayungi Pohon Nagasari Digubet Beringin

Menyudahi dialog batin, dengan para leluhur di pesarean Ki Ageng Ngenis, saya masih belum beranjak dari bersila. Terlalu nyaman, suasana selepas siang itu.

Meski masih ada terik, matahari tak mengirim panas karena empat pohon Nagasari yang menjadi payung. Saya menghitung, empat pohon itulah yang paling besar, sebagai peneduh pusara. Selebihnya, pohon-pohon yang masih kecil.

Berada di samping kanan, pohon Nagasari itu terlihat angker, bukan saja tubuhnya yang jangkung. Tapi juga lilitan beringin putih yang seperti membentuk pilinan sebuah pusaka keramat. Banyak kisah mistik mengalir dari pohon itu. Sebagian besar, ditambah-tambahi sehingga terdengar semakin misterius.

Setelah mengelus kijing sang kiai, saya surut. Mundur dengan santun. Sekali lagi, saya memandangi pusara Ki Ageng Ngenis yang bijak. Di sampingnya, ada dua pusara lain, yang seolah mengapitnya; Nyai Ageng Pandanaran serta Nyai Ageng Pati, yang masih kerabat dekat.

Berdiri dua langkah dari Ki Ageng, saya mengedarkan pandangan. Mulai dari Nagasari yang paling belakang, hingga yang berada di pojokan. Lalu, kembali lagi memandangi Nagasari yang digubet beringin. Setelah itu, ke kijing-kijing tua lain,serta pusara para pengikut setia Ki Ageng Laweyan dalam mengembangkan kampung itu menjadi pusat penyebaran Islam.

Saya baru benar-benar meninggalkan area pemakaman, setelah puas menghirup udara kedamaian itu. Lalu, beranjak, menuju masjid. Dan, lihatlah kemegahan yang disembunyikan Masjid Laweyan. Tidak saja kokoh, tapi juga mampu melintasi generasi yang sangat panjang, sejak dibangun sebagi langgar, di era Ki Ageng Ngenis.

Tiga ragam arsitektur (Jawa, Cina dan Islam) membuat masjid Laweyan, tampak berbeda. Nilai perbedaan itu, semakin tampak nyata, setelah melihat perjalanan masjid ini, dalam melintasi zaman. Dibangun pada 1546,Masjid Laweyan, menjadi penjaga kota Solo.

Luasnya memang hanya 162 meter. Namun peranannya, bahkan jauh lebih panjang dari usia kota Solo yang baru berdiri sejak 1745. Yang membedakan masjid ini, dengan yang lain, karena ada SK dari Bung Karno yang menunjukan Masjid Laweyan merupakan Masjid Negara. Tapi, tentulah, yang tidak pernah dibayangkan, tempat ibadah yang spesial ini, kayu yang menjadi material utama disambung dengan paku emas.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.¬† Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *