Rumah tua itu, berbentuk limasan. Ketuaan terasa sangat menyengat, sejak berada di halaman. Rumah ini, diperkirakan merupakan bagian belakang dari pendopo Kabupaten Ambal yang hanya memiliki satu bupati.
Lalu siapa Bupati Ambal yang hanya satu orang itu? Ia adalah Kanjeng Raden Adipati Haryo Poerbanegara. Memiliki masa kekuasaan dari 1828-1872, Poerbanegara muda, dikenal dengan nama Raden Ngabei Mangunprawira.
Ngabei Mangunprawira adalah Raden Semadi, salah seorang putra dari garwa ampil Hamengku Buwana III yang mengungsi Kedu. Tokoh inilah yang kemudian mampu menghapus kekacauan di sekitar wialayah Urut Sewu, akibat kraman yang berpusat pada begal Gumawijaya atau lengkapnya Puja Gumawijaya.
Saat itu, Urut Sewu di pesisir selatan, memang daerah yang sangat kelam. Kejahatan terjadi di mana-mana sehingga membuat resah masyarakat. Dan, pusat kejahatan ada pada Puja Gumawijaya, murid Gumawikangka yang memilih jadi begal.
Semula, tidak pernah ada yang mampu menyelamatkan Puja oleh sebab kesaktiannya. Sayembara yang digelar pemerintah Belanda, juga tidak diikuti oleh satu orang pun, sampai kemudian datang Raden Semadi. Ia mengikuti sayembara karena prihatin dengan kondisi Urut Sewu yang pilu.
Lalu, Raden Semedi atau Raden Ngabei Mangunprawira mendatangi sahabatnya, Lurah Sijeruk, Wargantaka. Ia tahu, Wargantaka adalaah kawan seperguruan Puja sehingga tahu dengan persis kelemahannya. Dan benar. Puja Gumawijaya dapat dibinasakan.
Mampu menumpas kraman, Ngabei Mangunprawira bukan hanya mendapat pujian tapi sekaligus kehormatan. Ia dinobatkan sebagai Bupati Ambal dengan gelar Kanjeng Raden Adipati Haryo (KRAH) Poerbanagara.
Memerintah sejak 1828, Poerbanagara meninggal tanggal 7 Maret 1871. Setahun kemudian, Kabupaten Ambal hilang. Atau tepatnya dihilangkan bersama dipecahnya kawasan Begelen menjadi tiga wilayah: Kutoarjo, Karanganyar, Kebumen.(bersambung)








