Dino Iki, 86 Kepungkur Wates Nduwe Tugu Chino

oleh -13 Dilihat
oleh

Dino iki, 23 Desember 2017. Liwato Teteg Wetan. Lewatlah pintu kereta di timur Stasiun Wates. Lalu  melihat tugu bentuk Pagoda warna putih disepuh emas. Tugu tua itu, salah satu saksi perjalanan sejarah Kota Wates. Diresmikan tepat 23 Desemberr 1931. Umure wes 86 tahun.

Begitulah. Wates jauh sebelum Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945, wes rome. Sudah ramai tak ubahnya kota-kota lain di Jawa. Salah satu yang membuat Wates makmur kala itu, adalah kehadiran para peranakan China. Keturunan Tionghoa yang menetap, berdagang, menghidupkan detak bisnis di Wates.

Pusat keramaian ada di sekitar pasar Wates. Bangunan bertumbuh. Dibangunlah Kantor Kadipaten dan Stasiun Wates, yang dilintasi kereta jarak-jauh, Batavia-Ngayogyokarto. Pusa bisnis juga bermunculan di sekitar pasar. Termasuk tempat pegadain, selain Wakapan.

Perekonommian di Kulon Progo kala itu, terus membagus. Ada tambangan mangan di Kliripan, Hargorejo. Juga pabrik tebu, di Kawasan Mbarik Brosot yang sudah menjadi kota bagi tuan-tuan Belanda.

Dalam skala rumahan, produksi gula merah dari Kokap ikut mewarnai pasar. Ada juga, minyak kelapa yang dihasilkan masyarakat di sekitar Kulur. Semua menambah prospektifitas Wates zaman itu, yang selanjutnya mengundang para peranakan Tionghoa ikut bermigrasi ke kota ini.

Gelombang kedatangan masyarakat Tionghoa ke Wates semakin besar, karena Puro Pakualam ikut terlibat. Sri Paku Alam saat itu memiliki kepentingan membuat wilayahnya ramai. Seperti diketahui, sebelum dilebur menjadi Kulon Progo, ada dua kabupaten di sini: Kulon Progo yang bertanggungjawab langsung ke Keraton Jogja serta Adikarto yang berada di bawah kendali Pakualaman.

Itulah yang membuat masyarakat Tionghoa, mendirikan tugu peringatan. Sebuah prasasti sebagai ucapan terimakasih kepada Penguasa Kadipaten Adikarto, yang memberi mereka kesempatan berdagang di wilayahnya. Berbahan batu granit dengan dua lempeng yang bertuliskan huruf Cina dan Bahasa Indonesia.  Bunyi begini:

                                                                                           PERINGETAN                                                   

Sripadoeka kandjeng Goesti pangeran Adipatie Ario Pakoe Alam 7 Bertachta di atas keradja’an pakoe Alam Tjoekoep 25 tahun srenta Adikarto beroesia 100 tahun. Die Persembahken oleh pendoedoek Bangsa Tionghwa, Ver Tionghowa Hwe Khan dan ver: Hiap Tikhwee Die Wates. Wates Den 23 Desember 1931. (stmj)

 

 

Response (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.