Home / DWIDJO / Api Cinta di Bukit Menoreh (53): Paidi Memberi Makna Perpisahan

Api Cinta di Bukit Menoreh (53): Paidi Memberi Makna Perpisahan

Perpisahan berlangsung sederhana. Acara berlangsung singkat, namun memiliki makna mendalam. Masing-masing mengekspresikan dengan berbagai cara. Ada teman-teman yang mencorat-coret baju seragamnya.

Ada juga yang memborong makanan untuk pesta kecil di antara teman-teman satu geng. Ada yang bernyanyi sepanjang perjalanan pulang. Ada di antara mereka yang tertawa, menangis dan banyak lagi cara ungkap atas keberhasilan belajar selama tiga tahun.

Paidi memberikan makna dengan bermenung. Tersenyum, tertawa dan kembali bermenung. Banyak yang terpikirkan dalam benaknya. Sebanyak jalinan yang saling memilin, menyilang dan saling bertautan. Cita-cita mengembang, sejurus kemudian pikiran melayan. Namun terbayang bagaimana menyelusuri perjalanan panjang mencapai harapan. Membayangkan perjalanan yang melelahkan, perjalanan yang tidak mudah dan penuh tantangan.

Bapak-biyungnya  seperti menari-nari di hadapannya. Membayangkan masa depan yang membentang. Perpisahan baru saja berlalu, masa-masa indah menyelesaikan sekolah baru saja terjadi. Namun tidak dapat ditolak, sekolah yang lebih tinggi sudah menanti. Tantangan baru bakal menghadang. Perjalanan panjang akan membentang, semakin panjang dan panjang.

“Sekolah,” Paidi memikirkan bagaimana menjalani sekolah tinggi. Sekolah menengat atas. Sementara bapak-biyung harus bekerja keras untuk membiayai sekolah. Membeli buku, membeli seragam. Berbagai keperluan sekolah yang tidak terelakkan lagi. Padahal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terkadang biyung masih harus berjuang. Mencari-cari daun yang dapat menjadi sayur, terkadang di lading tumbuh daun katuk, daun kimpul juga nggayong.

Apa yang dapat menjadi sayur diambil untuk keperluan sehari-hari. terkadang daun pisang, daun mlinjo atau daun bayam yang tumbuh liar di pinggir pekarangan belakang rumah. Semua diperlukan untuk mengganti bahan makanan yang terkadang tidak terhidang di dapur. Ngadiati, Paiyo,  Paiman, Paimo dan Paijan mbakyu serta adik-adik Paidi juga membutuhkan sekolah yang sama.

“Syukur kalau sudah ada beras, sambel juga cukup untuk teman makan pagi,” demikian biyung mengingatkan bagaimana menjalani kehidupan menjelang berangkat sekolah di kampung. Akankah demikian ketika sudah belalu sekian lama.

Sekolah menengah atas berangkat pagi, pulang tengah hari. Terkadang sarapan pagi berlalu begitu saja. Haruskah perjalanan terulang kembali, bukankah perjalanan harus ke depan agar terjadi kemajuan.

Ngadiati yang lebih dulu lahir memang hampir menyelesaikan pendidikan menengah. Namun bukan berarti sama sekali tidak membutuhkan biaya, masih harus meneruskan pendidikan yang lebih tinggi. Meski perempuan tetap juga harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Tidak ada beda antara laki-laki dan perempuan dalam hal pendidikan.

Untuk makan masing-masing mendapat jatah yang sama. Demikian halnya dengan pendidikan. Setiap anak harus memperoleh pengajaran yang sama. Tidak boleh ada perbedaan. Tinggal bagaimana masing-masing anak memacu diri untuk giat belajar mencari ilmu. Semua itu untuk kepentingan anak-anak di masa yang akan datang. Bukan untuk siapa-siapa.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *