Home / DWIDJO / Api Cinta (98): Kembali ke Menoreh, Tempat Pendadaran Prajurit Mataram

Api Cinta (98): Kembali ke Menoreh, Tempat Pendadaran Prajurit Mataram

Ketebang-ketebang. Paidi kembali ke kampung halaman untuk berlibur.  Tidak sesungguhnya berlibur. Lebih karena bekalnya memang sudah habis. Kiriman belum datang, persediaan logistik sudah tidak ada.

Sementara untuk studinya masih membutuhkan perjuangan. Selain baru setengah perjalanan, juga permasalahan hati tidak dapat ditunda.  Kerinduan kepada kampung halaman tidak dapat dielakkan.

Kemantil-kantil. Perasaannya ingin kembali, memulihkan semangat. Untuk sekedar mengambil suasana kampung halaman. Metropolitan yang memekakan memerlukan suasana baru yang menyejukkan.

Kampung  halaman menjadi satu dari banyak tempat berteduh, biyung dan ramaknya akan memberikan semua kerinduan yang mendendam. Semuanya akan selesai setelah beberapa saat berada di dekat asal kejadiannya.

Menoreh, tempat pendadaran para Prajurit Mataram menjadi satu dari penggalan hatinya. Tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, dimanapun melangkah. Keberadaannya akan tetap menjadi sumber penghidupan. Tempat mengadu sekaligus topobroto tentang semua sisi kehidupan di dunia yang fana. Di sana akan banyak kehidupan yang kasat mata hati, hanya dengan mata batin dapat menemukan  hakikat kehidupan.

Paidi langsung ke dapur, tempat simboknya bergumul seharian. Di sanalah tempat paling menentramkan selama ini, ada biyung yang selalu terampil menangani berbagai masalah. Amben panjang dan dipan menjadi saksi pengambilan setiap keputusan besar dalam kehidupan mereka.

Benar saja, biyung tengah ada di dapur mempersiapkan uborampe untuk menjamu ramak yang sebentar lagi kembali dari mencari keberkahan hari ini. Masakan har ini cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Nasi dan sayur sudah menjadi menu istimewa. Tanpa lauk sekalipun sudah terasa nikmat. Apalagi di siang terik yang memanggang selama perjalanan.

“Jangan bobor le,”

“Kesukaanmu,”

Madanom langsung  menyajikan di hadapan Paidi yang masih berkeringat. Nasi anget disiram sayur, Paidi langsung menyambar dengan lahab. Kangen rasanya setelah beberapa saat tidak bertemu dengan makanan biyung. Rindu dendam terlampiaskan.

Selama kost Paidi makan seketemunya, terkadang hanya nasi dan orek tempe yang menemani. Ditambah sambel sudah terasa lebih, sering kalau tidak ketemu yang lain hanya cabe yang menjadi menu tambahannya.  Kali ini Paidi melampiaskan, banyak nasi dan sayur. Telebih masakan biyung yang menjadi favorit.(bersambung)

About redaksi

Check Also

19 orang Terjaring Operasi Yustisi Penerapan Disiplin Covid 19

Ngaglik, Kabarno.com Tim Gabungan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kecamatan Ngaglik digelar di Kalurahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *