Home / DWIDJO / Api Cinta (67): Di Saat Senggang, Paidi Menghadirkan Bayangan Mirah

Api Cinta (67): Di Saat Senggang, Paidi Menghadirkan Bayangan Mirah

Semut ireng anak-anak sapi
Kebo bongkang nyabrang kali bengawan
Keong kondhang jarak sungute
Timun wuku ron wolu
Gajah meto cinancang wit sidoguri
Mati cineker pitik trondol.

Paidi-Mirah-Si Jengki tidak lagi menjadi tiga serangkai. Juga tidak menjadi tiga sekawan. Ibarat partai politik, koalisi di antara mereka sudah pecah, berantakan. Tidak ada lagi kebersamaan. Tidak ada lagi lagu-lagu merdu di antara mereka. Seperti ketika mereka berangkat sekolah bersama-sama. Sepi dan sunyi sehingga menghadirkan suasana komplang, nglangut.

Tidak bagi Paidi. Tidak pernah ada perpisahan. Mereka  merasa masih bersama, bersatu dan tetap tiga serangkai yang tak terpisahkan. Perjalanan waktu dan tempat yang memisahkan, namun sesungguhnya mereka tetap berdampingan. Suatu saat akan bersama lagi, tuga sejoli yang tak hendak dipisahkan oleh apapun juga.

Di saat senggang, Paidi kembali menghadirkan suasana indah ketika mereka bersama-sama. Meski sebatas angan, membayangkan mereka bertiga berkumpul bersama menjadi obat sesaat. Meski nglangut menggelayuti seluruh diri dan perasaannya, namun cukuplah mengenang masa-masa bersama, bercerita dan bermimpi menghadapi masa depan gemilang.

Menjelang tidur, Paidi masih membayangkan bagaimana mimpi-mimpi bersama dapat dihadirkan dalam kehidupan nyata. Sampai larut malam Paidi masih membayangkan, memikirkan dan mengharapkan sebuah kenyataan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai tertidur  Paidi memikirkan keadaan diri dan nasib tiga serangkai yang dibangun dengan suka cita.

“Pak Lurah, bade tindak balai desa,”

“Kok namung sepeda jengki,”

“Bu Lurah mboten sareng,”

Paidi tergagap, bangun dari tidurnya. Sayup-sayup terdengar ayam berkokok, menandakan dini hari sudah datang menjelang. Meski fajar sidik masih jauh dari ufuk timur, namun Paidi bergegas bangun. Mengambil air dan menyegerakan untuk bersujud. Shalat malam untuk mengadukan semua permasalahannya kepada Sang Pemilik Jagat Raya, Rabbul ‘Alamin.

Paidi hanya dapat merenung. Memikirkan, membayangkan dan mengandaikan. Tidak dapat lain kecuali berpikir meski juga tidak menemukan jalan keluar, terbaik. Bapak-biyungnya hidup dalam kesederhanaan, menjalani kehidupan sebagai warga desa. Bertemu nasi lengkap dengan lauk saja sudah lebih dari cukup.

Mustahil membiayai kehidupan yang lebih dari semua itu. Paidi masih harus menyelesaikan sekolah. Paidi masih harus turut membesarkan adik-adiknya. Syukur dapat membantu membimbing adik-adiknya yang masih terlalu kecil untuk ikut memikirkan nasibnya.

Paidi lelah memikirkan nasib tiga serangkai. Terutama Mirah yang selama ini menganggu pikirannya. Bagaimana nasibnya di rantau. Bagaimana perjalanan selanjutnya.

Adakah yang turut memikirkan, ataukah juga memikirkan diri dan masa depannya. Apakah Mirah juga tengah memikirkan dirinya.  Masihkah Mirah membayangkan kebersamaan selama ini.

Terlelep dalam mimpi bersama Mirah. Terlalu pulas Paidi tertidur. Tidak seperti biasanya. Paidi tidur tertelungkup. Lelah memikirkan semua itu. Paidi tertidur pulas, terlelap. Masih dengan pakaian kerja di sawah.

Entah mengapa tertelungkup sembari memeluk bantal yang mulai kusam dan berwarna kecoklatan. Ditambah aroma yang tidak sedap lagi karena terlalu lama tidak dicuci. Kalau matahari di tengah-tengah sedang terik paling  dijemur.

Di waktu senggang Paidi membantu orang tuanya.  Kalau pas di dapur, membantu biyung meski hanya sebatas mengupas bawang. Menyiangi dedaunan yang siap direbus, atau menyalakan tungku api. Apalagi ketika hari hujan di sepanjang hari. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *