Home / DWIDJO / Api Cinta (43): Kecantikan Mirah Menarik Perhatian Semua Orang

Api Cinta (43): Kecantikan Mirah Menarik Perhatian Semua Orang

Paidi dalam hati mengagumi Mirah. Tampak wajahnya yang lemah, sekaligus menampakkan kelembutan. Rambutnya yang tergerai sesekali menerpa wajah Mirah. Jidatnya yang sedikit lebar ditumbuhi anak rambut tipis seperti semut yang tengah berbaris rapi. Mata dan alisnya yang lentik menawan. Hidungnya proporsional dengan wajahnya yang bulat lonjong sehingga merupakan perpaduan lengkap wajah Indonesia.

Paidi terus mengagumi keindahan sosok yang disaksikan di depannya. Mirah tidak menyadari bagaimana Paidi menyaksikan seluruh lekuk-lekuk wajahnya. Paidi benar-benar hanya menunggui Mirah seperti  yang diamanahkan orangtua mereka. Tidak ada kejadian lain selain menunggu dan menunggu saja. Merski demikian Paidi tidak merasa masgul, menyaksikan keindahan wajah sahabatnya sudah merasa cukup. Karena tidak semua temannya memiliki kesempatan sama untuk berdekatan dengan Mirah.

Paidi justru semakin galau. Hatinya bergejolak. Menyaksikan kecantikan alamiyah Mirah. Sangat mungkin banyak orang yang mengaguminya.  Dalam benak Paidi berpikir, bahkan berprasangka buruk. Kecantikan yang dianugerahkan kepada Mirah, bisa jadi merupakan malapetaka. Mirah dapat saja meninggalkan dirinya. Berbagai alasan dapat dikemukakan. Seiring perkembangan waktu, semua kemungkinan dapat terjadi.

Kecantikan Mirah dapat menarik perhatian semua orang. Tubuhnya memang masih dalam perkembangan. Belum seluruhnya terbentuk. Namun banyak orang menyatakan, Mirah cantik alamiyah. Paidi menyaksikan hal itu. Saat ini benar-benar melihat dari dekat. Sangat dekat, meski Mirah tengah terpejam. Paidi dapat merasakan kedekatan antara mereka berdua. Suasana batin mereka menjadi satu. Kebersamaan selama ini menjadikan mereka merasa sangat dekatnya. Dalam banyak hal mereka dapat bersama-sama, termasuk menemani ketika Mirah hanya dapat terbaring lemah di tempat tidur.

Paidi tidak bergairah. Memikirkan keadaan Mirah di satu sisi timbul rasa iba. Namun ketika memikirkan hari esok, nyalinya menjadi kecut. Ada perasaan tidak nyaman. Ada ganjalan yang tidak dapat diungkapkan. Hanya perasaannya sendiri yang terus bergolak. Memikirkan masa depan entah bagaimana. Kehidupan seperti apa yang bakal dijalani, Paidi tidak mengerti. Akankah masih bersama-sama dengan Mirah yang didambakan. Akankah Paidi tetap bersama-sama di kampong halaman.

Mirah dan orangtuanya tidak ada perubahan. Tidak melarang mereka berdua. Juga tidak melarang pertemanan keduanya. Mereka tetap bersama-sama. Mereka bermain bersama. Mereka  berangkat sekolah bersama. Ketika di rumah selalu berdua. Banyak kesempatan mereka lalui bersama-sama. Banyak kesempatan untuk mereka bercengkerama. Juga banyak kesempatan bagi keduanya untuk saling berbagi.

Justru kedekatannya itulah yang mengkhawatirkan Paidi. Kedekatan yang menjadikan hati pilu. Seperti tersayat-sayat. Kedekatan keduanya tidak dapat dipungkiri. Namun akankah keindahan itu akan terus berlangsung seperti mereka inginkan. Akankah runtang-runtung mereka berdua dapat dipertahankan hingga perjalanan hidup di masa depan. Jauh di kehidupan yang akan datang.

Apakah Pak Lurah dan Ibu Lurah dalam angan mereka dapat terwujud dalam kehidupan yang sesungguhnya. Akankah mimpi mereka dapat diwujudkan dalam keseharian di hari-hari yang akan datang. Mimpi yang benar-benar membanggakan. Akankah dapat dijalani dalam kehidupan di hari-hari mendatang. Ataukah benar-benar hanya sebatas mimpi mereka berdua ketika masih sangat kanak-kanak. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Diduga kurang konsentrasi, Mobil Suzuki Pick Up nyemplung pekarangan ing Wijimulyo Nanggulan

Nanggulan, Kabarno.com – Kecelakaan terjadi pada Minggu, 20 September 2020 sekitar pukul 07.00 wib, di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *