Home / DWIDJO / Api Cinta (31): Lha Kepriben Maning, Kae Sak Karebe Dhewek

Api Cinta (31): Lha Kepriben Maning, Kae Sak Karebe Dhewek

Selagi masih muda Pakwo sering berkelana. Pergi jauh untuk mendapatkan kesenangan. Meski harus meninggalkan kewajiban sebagai kepala keluarga. Menjaga ternah dan menggarap sawah ladang. Berhari-hari setelah panen padi, Pakwo sering meninggalkan rumah. Dengan alasan menjalankan bisnis, mencari penghasilan tambahan.

Mbokwo sering bercerita, bercengkerama dan berbagi dengan anak, cucu dan cicitnya. Sering kali muncul kalimat-kalimat yang seperti keluhan, curahan hati. Mbokwo sering menyampaikan keluh kesahnya sendiri. Di hadapan anak, cucu dan cicitnya. Mbokwo menyadari mereka tidak akan pernah mampu memberikan jalan keluar. Mereka tidak akan mampu menghadapi Pakwonya. Namun diyakini akan menjadi pelepasan beban dari pikiran yang menggelayut selama ini.

Setelah bercerita, bercengkerama dan berbagi bersama anak, cucu dan cicitnya Mbokwo seperti menembukan kembali kehidupannya. Suarana muram yang didapati selama ini, seperti terbebaskan setelah curhat dengan anak, cucu dan cicitnya. Mbokwo tahu mereka tidak dapat berbuat banyak, namun mereka menjadi tahu bagaimana sesungguhnya kehidupan di alam dunia ini.

 

Ada suka ada duka nestapa. Ada segala warna kehidupan. Hanya satu yang harus menjadi pegangan. Betapapun kehidupan riuh rendah dengan dinamikanya. Namun sebagai makhluk dhoif, manusia yang lemah. Hendaknya selalu bersandar kepada tata nilai yang berlaku di masyarakat. Tidaklah lurus, lempang tanpa gejolak menjalani kehidupan di dunia ini.

Akan selalu ada warna-warni kehidupan. Dalam kehidupan ini, akan selalu muncul permasalahan.  Setiap manusia akan menghadapi yang namanya suasana batiniyah. Ada suka, ada duka. Ada senang dan gembira, ada pula sedih dan sengsara. Semua berpasangan. Semua itu sudah menjadi hukum sejarah. Selama masih menjalani kehidupan di dunia ini, siapapun tidak dapat melepaskan diri dari keniscayaan hukum alam.

Tinggal bagaimana manusia sebagai makhluk yang berakal memaknai semuanya itu. Sebagai manusia yang dikaruniai kemampuan berpikir, menimbang dan bijaksana. Manusia hendaknya menggunakan kemampuan pikirannya. Selama manusia menggunakan kemampuan berpikirnya. Semua masalah yang dihadapi akan mendapat jalan keluar terbaik.

Mbokwo meyakini benar kemampuan akalnya. Setiap permasalahan yang dihadapi akan dicerna. Ditimbang-timbang sebelum mengambil keputusan terakhir. Dengan demikian hasil yang diambil dari sikapnya, akan selalu positif. “Lha kepriben maning, kae sak karebe dhewek,” katanya setiap kali menghadapi situasi sulit yang tidak kunjung mendapatkan jalan keluar.

“Lha kepriwe,”

“Kepriwe maning,”

“Juweh,”

“Ra tuwajuh,”

Demikian kalimat yang selalu menghias lisan. Sebagai sebuah ungkapan kepasrahan menghadapi dinding-dinding tebal kehidupan yang keras bagai cadas. Mbokwo lebih banyak mengurus     anak-anak dan cucu, dibandingkan mempersoalkan kehidupan dirinya sendiri. Banyak asam garam kehidupan sehingga menjadi pelajaran sangat berharga. (bersambung)

About redaksi

Check Also

19 orang Terjaring Operasi Yustisi Penerapan Disiplin Covid 19

Ngaglik, Kabarno.com Tim Gabungan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kecamatan Ngaglik digelar di Kalurahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *