Home / DWIDJO / Api Cinta (25): Kepasrahan Belaka yang dapat Dilakukan

Api Cinta (25): Kepasrahan Belaka yang dapat Dilakukan

Berhari-hari Paidi mengikuti nalurinya. Tidak banyak melakukan perubahan aktivitas. Setiap pagi menjelang, membawa serta ternak gembalaannya ke padang luas. Menjelang siang membawa kerbau ke sawah. Ketika hari menjelang sore membawanya ke kandang setelah memandikan di Kali Jali.

Nalarnya yang cupet sangat terbatas memikirkan hal-hal di luar dirinya. Tidak banyak hasil pemikiran yang muncul seiring dengan pengalaman dan pergaulannya yang masih sebatas lingkungan kampungnya. Hari-harinya dilalui dengan gembalaan di sawah dan ladang.

Nalurinya saja yang berkembang seiring dengan pengalaman. Kehidupan yang mendera mengharuskan Paidi berpikir keras. Meski badannya masih kecil, nalarnya masih terbatas. Namun nalurinya mulai berkembang. Seiring dengan kenyataan yang tengah menerpa dirinya. Bagaimana mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi. Akankah kehidupan harus dilalui berdasarkan kemurahan alam.

Alam memberikan pelajaran kepada manusia. Tidak kecuali Paidi. Pengalamannya bersama kerbau dan gondhek memberi pelajaran berharga. Pengalamannya di lapangan luas, di sawah dan ladang sangat membekas. Pengalaman itu akan terbawa hingga Paidi menjalani kehidupan di hari-hari selanjutnya. Tidak lekang di panas matahari, tidak lapuk di tengah hujan.

Kali Jali yang memberikan pengalaman luar biasa. Terseret arus bersama derasnya air yang datang menggelegak. Sebuah pengalaman batin yang tidak pernah terlupakan. Sepanjang hayat di kandung badan. Pengalaman itu akan terus melekat dan terpatri dalam benak.

Saat-saat menegangkan itu terlintas nyata seperti di depan matanya. Seperti baru saja terjadi kemarin. Detik demi detik berlangsung sangat lambat. Masih terasa dinginnya air. Badan yang menggigil. Banjir yang menggelegakkan air. Sungai yang marah membawa apa saja.

Rumpun bambu, batang kepala dan apa saja yang melintas berseliweran di kiri kanan. Seolah tengah ngeledek, jangankan engkau Paidi yang badanmu kurus kering. Sebongkah rumpun bambu saja hanyut terbawa derasnya arus Kali Jali. Batang kelapa yang tinggi menjulang ke angkasa juga terkapar, terseret arus yang sangat dahsyat.

Paidi masih mengalir. Mengikuti arus sungai yang menggelontor menuju hilir. Paidi kecil hanya dapat mengikuti. Tidak dapat berbuat lain kecuali mengalir saja. Melawan arus air bah Kali Jali hanya akan sia-sia belaka. Sebagaimana Paidi kecil melawan sosrobahu.

Kepasrahan belaka yang dapat dilakukan. Sambil menunggu kekuatan lebih dahsyat dari arus besar Kali Jali. Kekuatan sungai yang sungguh besar tak terlawan Paidi. Meski demikian Paidi tetap yakin ada kekuatan yang jauh lebih besar menggerakkan arus besar sungai.

Dalam kepasrahannya itu Paidi sangat berharap adanya kekuatan-kekuatan maha dahsyat turut campur. Dengan demikian dapat selamat dari amuk Kali Jali yang tengah menumpahkan seluruh kekuatan. Menggelegak menyeret apa saja yang ada di sekitarnya, termasuk Paidi.

Demikian halnya dengan setiap permasalahan yang dihadapi. Kepasrahan menjadi kunci sehingga akan dapat menyelesaikan setiap apapun yang terjadi. Sambil terus mengalir, menjalani kehidupan di alam raya sesuai kehendak di luar dirinya. Paidi berharap dari setiap persoalan hidupnya dapat diuraikan secara baik, melalui satu kata pasrah.(bersambung)

About redaksi

Check Also

19 orang Terjaring Operasi Yustisi Penerapan Disiplin Covid 19

Ngaglik, Kabarno.com Tim Gabungan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kecamatan Ngaglik digelar di Kalurahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *