Home / DWIDJO / Api Cinta (19): Nunggang Kebo sambil Ngguyang

Api Cinta (19): Nunggang Kebo sambil Ngguyang

Paidi mulai berkenalan dengan gondhek. Mulai berani mendekatinya, memegang ekor dan tanduknya. Sesekali Paidi menaiki kerbau kecil yang tengah nderum. Selain karena kerbau menjadi jinak, juga tidak akan lari. Kerbau nderum sambil memamah biak pasti sudah kenyang sehingga dapat dipastikan tidak akan bangun dari istirahatnya apalagi melarikan diri.

Paidi lebih berani ketika ngguyang, memandikan kerbau di Kali Jali. Di air yang mengalir lambat-lambat karena tidak banjir, kerbau dapat nderum, kungkum. Kerbau bermalas-malas di dalam air. Sembari terus memamah biak, kerbau mendinginkan badan setelah seharian bekerja, berjemur di terik matahari di tengah sawah.

Sore menjelang masuk kandang. Si gembala guyang, memandikan kerbau. Tidak ketinggalan gondhek menyertai, mandi dan bermalas-malas dalam air. Gembala biasanya menggosok-gosok dengan rerumputan. Badan kerbau yang seharian bermandikan lumpur dibersihkan, meski tidak memerlukan sabun namun cukup menghilangkan lumpur kering yang menempel.

Saat itulah Paidi berani nunggang di atas punggung kerbau. Kalaupun kerbau melarikan diri di air tidak akan kencang. Kalaupun celaka terjatuh di air tidak akan sakit. Paling-paling keleleb, dengan sedikit berenang dapat muncul kembali. Apalagi kerbau besar yang melintang  menahan arus air sehingga dapat menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja.

Kalau sudah terbiasa nunggang kerbau di air saat guyang, Paidi yakin kalau saatnya tiba dapat nunggang kerbau di darat. Saat itulah Paidi benar-benar menjadi gembala yang sesungguhnya. Ketika nunggang kerbau di air maka akan merasakan seperti nunggang kerbau di darat. Nanti juga akan bisa nunggang kerbau beneran di daratan.

Dasar Paidi. Bukan Paidi kalau tidak menerima tantangan. Selain untuk membuktikan keberaniannya juga untuk mendapatkan sanjungan. Saat yang sama menghilangkan stigma buruk. Mosok anak gembala tidak berani nunggang gembalaannya.

Enak nunggang kerbau di air ketika guyang. Paidi menjadi yakin. Percaya diri Paidi.  Saatnya sekarang dapat nunggang kerbau kecil, si gondhek. Tanpa dikomando lagi Paidi langsung naik punggung gondhek. Tanpa mendapat aba-aba si gondhek langsung njepluk, lari tunggang-langang. Tinggal Paidi kontrang-kantringan di atas punggung kerbau kecil.

Teman-teman sebaya yang menyaksikan bukan menolong, menghentikan laju si gondhek. Justru bersorak-sorai menyaksikan Paidi menjadi joki dari si gondhek. Untuk beberapa lama Paidi bertahan di atas punggung kerbau kecil. Namun lari kerbau kecil itu makin tak terkendali. Sampai di suatu tikungan, Paidi terpental. Jatuh tertelungkup. Paidi hanya dapat berdiam diri. Tidak dapat menangis, tidak dapat bergerak. Berdiripun untuk beberapa lamanya tidak dapat.

Tertatih-tatih Paidi mengikuti gondheknya. Bukan Paidi kalau menyerah begitu saja. Namun jatuh di tanah waktu kemarau bukanlah hal yang menyenangkan. Lecet-lecet sedikit tidak sangat dirasakan. Namun jalannya terasa berat seperti robot. Seperti temannya yang baru saja disunat. Paidi tidak dapat berjalan seperti sedia kala, ngegang.

Punggungnya terasa nyeri. Kaku dan sulit digerakkan. Meski tidak terdapat luka di punggung. Namun memar sangat terasa. Meski demikian dasar Paidi. Bukan Paidi kalau menyerah begitu saja. Sesampai di rumah Paidi tetap sebagaimana biasanya. Sama sekali tidak bercerita kepada simbahnya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tokh tidak ada luka. Simbahnya tidak akan mengetahui kalau Paidi baru saja terjatuh dari kerbau kecil yang ditungganginya.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Menuju 16 Tahun Bakor PKP, Inilah Sejarah Ikabarata

Inilah Ikatan Keluarga Banaran Bantarjo (Ikabarata).  Salah satu paguyuban Kulon Progo yang memiliki anggota cukup …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *