Home / CAKRUK / CAKRUK: Kerawuhan PRD, Semua jadi Kaclep

CAKRUK: Kerawuhan PRD, Semua jadi Kaclep

Serius. Cakruk yang biasanya ubruk, kedatangan kiai kondang yang agak-agak tumben, kerso rawuh di Cakruk yang diisi oleh politisi adu strategi. Tentu saja, ini menjadi sangat istimewa, meksi terasa aneh. Entahlah. Mungkin pengaruh gempa Banten kemarin dan gempa Jakarta, tadi siang. Tapi okelah.

Kedatangan Kiai PRD ini memang menjadi berkah buat kawulo Cakruk. Setidaknya menjadi pertanda baik, walaupun memang, kedatangannya hanya juk klepat alias sebentar. Sangat sebentar. Ya maklum namanya juga kiai kaloko jadi sibuk ngurusin umat. Kedatangannya di Cakruk sudah menjadi berkah buat umat Cakruk.

“Cuntel.” Hanya itu kalimat yang terucap. Semua diam, tidak ada yang memahami makna kalimat itu. Sedang melempar sanepo? Atau sekadar ngudoroso. Tapi pasti ada maknaya, makna yang dalam, secara yang ngendiko seorang ulama to. Ki Mbero yang biasanya paling perkasa kalau menghadapi lawan-lawannya, juga kaclep. Densus yang abdi negara, sehingga selalu cak-cek dalam mencari solusi, ikut diam seribu bahasaa.

Denpur malah milih minggir. Ia tahu, kalau harus menghadapi kiai sekelas PRD memang tidak mungkin. Mau pakai ajian sehebat apapun, ilmunya masih kalah waskito. Kiai yang satu ini memang tokoh langka. Kalau Densus menyebut, manusia komplet: ya kiai dengan ilmu nglotok, ya tokoh masyarakat yang misuwur, ya intelektual yang bersahaja, ya tokoh birokrat yang merakyat.

Sudah pasti sak indengin Jombokarto juga tidak ada yang menyamai kualitas ketokohannya. Itu yang membuat Cakruk merasa mendapat berkah. “Mudah-mudahan kita semua dilimpahi karahayon, “ bisik Densus, persis di dekat githok Ki Mbero yang ngapurancang.

Densus tentu paham, kerawuhan penggede memang membawa sawap yang tidak biasa.  Sudah sejak zaman lampau, semua penggende menyiramkan energi positif. Apalagi penggede dengan kawruh agama yang lengkap.

Tapi ya gitu. Karena kedatangan kiai misyuwur, Cakruk jadi senyap. Tidak ada yang berani cemuwet seperti biasa. Tidak gayeng, karena semua menahan diri. Tidak regeng, karena takut salah ucap bisa jadi perkara. Tundone malah diceramahi lebih panjang, nanti. Makanya itu, semua hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Ada yang umak-umik, ada yang uwat-uwet, ada yang memilih menenggelamkan kepalanya dalam tundukan yang dalam.

Semua baru berani mengangkat wajah, saat PRD medar sabdo. Rupanya, kiai penuh wibawa ini membawa kabar gembira. Woro-woro tentang lowongan menjadi bagian dari PPK PPS Kabupaten Kulon Progo. (kib)

About redaksi

Check Also

Bela Beli Kulon Progo-2: Masyarakat itu Asalnya tidak Memiliki Jiwa Entrepreuner

Bagaimana tanggapan masyarakat dan bagaimana mengajak masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri? Masyarakat senang sekali …

2 comments

  1. Apik iki

  2. Mantap…lanjutkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *