Home / KANGBARNO / 6 Ndino Maneh, Ki Seno Mbabar Parto Kromo nang Nganjir

6 Ndino Maneh, Ki Seno Mbabar Parto Kromo nang Nganjir

Udokoro enam ndino mengarep, dalang kawentar Ki Seno Nugroho, bakal mbabar lakon Parto Kromo nang Dusun Nganjir, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo. Mapan ing lapangan Nganjir, wayangan tanggal 12 Juni kuwi, bakale rame.

Dan, berikut ini, kisah Parto Kromo yang ditulis diterjemahkan secara bebas sebagai pengantar nonton wayang:

Dewi Kunthi masih sangat ingat. Nun di masa 25 tahunan silam, ia melahirkan Bambang Permadi ya Arjuna ya Janaka ya Partadewa. Kelahiran Arjuna, nyaris berbarengan dengan lahirnya Dewi Bratajaya. Mereka hanya dipisahkan oleh jeda waktu yang pendek.

Lalu,  dalam sebuah adegan yang monumental, bayi Arjuna dibopong Prabu Basudewa di tangan kanan, sedang putri terkasihnya, Dewi Bratajaya, dipondong di tangan kiri. Ada Kunti, ibu Arjuna, di sana. Ada Dewi Badrahini, ibunda Bratajaya. Juga Prabu Pandudewanata, yang khusuk mendengar titah sang Basudewa: kelak, dua bayi ini akan dipertemukan dalam sebuah pernikahan yang melahirkan wiji ratu.

Dan, hari itu tiba. 25 tahunan setelah peristiwa penuh haru-biru di masa lalu, Kunthi yang telah sendiri (karena Prabu Pandudewanata yang dicintai sudah lama mangkat) datang pada dua keponakannya, anak-anak Prabu Basudewa: Sri Kresna dan Baladewa ya Kakrasana.

Kunthi ingin sekali lagi memastikan janji Basudewa untuk menikahkan Bratajaya dengan Arjuna. Tapi rupanya, Baladewa justru menolak. Ia tak hendak menuruti sumpah ayahandanya yang ingin menjodohkan Bratajaya ya Rara Ireng dengan Permadi. Baladewa ingin, adiknya menikah dengan Raden Burisrawa, putra mahkota Mandaraka yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Tapi apa boleh buat. Lamaran Kunthi, pasti, mustahil ditolak. Jadilah, dibuat syarat yang  hampir-hampir mustahil bisa dipenuhi siapa saja:  Permadi harus mampu menyiapkan mahar berupa Mahisa Danu Pancal Panggung berjumlah 144 ekor yang dikendarai para bidadari sebagai pengiring pengantin.

Syarat lain yang diajukan Baladewa adalah, kereta kencana terbang sebagai kendaraan pengantin, kera putih sebagai penari cucuk lampah, Balai Kencana Asoka Domas, payung kembar mayang dari Kayu Dewandaru dan Kayu Jayandaru dari Kadewatan, serta Gamelan Lokananta yang ditabuh oleh para dewa.

Begitulah. Dewi Kunthi, ibu Arjuna yang merupakan wanita utama, tersenyum. Ia tahu, semua syarat yang diajukan Baladewa, bisa didatangkan, seberapa mustahilnya semua syarat itu. Ia pulang, dengan hati benderang karena langsung mendapat pencerahan begitu mengatahui Begawan Abiyasa menyambutnya. Setelah itu, semua syarat dihitung dan dibagi tugas untuk mencarinya.

Bima menemui Anoman, kera putih yang harus jadi cucuk lampah. Lalu datang ke Negeri Singela meminjam kereta pusaka. Sementara putra Bima, Raden Gatutkaca datang ke hutan Krendowahono untuk meminta kesediaan Ditya Dadungawuk  menjadi Mahesa Ndanu Panjang Punggung.

Arjuna, secara khusus datang ke Khayangan menemui Batara Kamajaya dan Batara Indra. Tidak sulit baginya untuk meminjam semua persyaratan yang diminta Baladewa, Gamelan Lokananta dan para dewa sebagai penabuhnya. Bukankah, Raden Arjuna ya Permadi ya Parta adalah ksatria kekasih dewata.

Sudah. Semua syarat sudah dipenuhi. Tapi Baladewa masih memaksakan diri menolak Arjuna. Ia malah murka, mengunus  Nenggala. Pusaka mahasakti itu, siap membinasakan Raden Permadi, andai tak terjadi segala yang membuatnya terkulai.

Benar. Saat itu, dalam seketika, melihat kakaknya sudah mengendalikan Nenggala, Bratajaya ya Rara Ireng ambruk di depan kakinya. Kepada sang kakak, ia merelakan menggantikan nyawa Arjuna jika kekasih hatinya itu ingin dibunuh. Dan, pada saat yang sama, Arjuna datang lalu bersimpuh di kaki Baladewa. Sama. Ia juga mengajukan diri menggantikan Bratajaya yang rela dibunuh kakaknya sendiri.

Balandewa ya Kakrasana tercengang. Kaki gementar. Tangan yang sudah mengunus senjata Nenggala, luruh. Lunglai bagai otot dilolosi. Airmatanya mengalir, perlahan. Ia segera ingat sumpah ayahandanya, Prabu Basudewa. Sumpah seorang raja yang berarti sabda pandita ratu, sekali diucap pantang diingkari: menikahkan Bratajaya dengan Arjuna.

Lalu, dalam getar yang menjalar, tanggan Baladewa menggapai Bratajaya dan Permadi secara bersamaan, membawa keduanya ke pelaminan milik Kadewatan yang disebut Balai Kencana Asoka Domas. Langit bertabur bebungaan karena para dewa menyiramkan restu dalam upacara agung Parto Kromo.(*)

About redaksi

Check Also

AB Joss Siap Ger-geran di Panggung Duo Komedian  Global TV

Dua komedian asal Jogjakarta, siap mengajak ger-geran di panggung Duo Komedian Global TV. Mereka adalah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *