Home / RJ / 100 Tahun Bale Agung, Sebuah Keagungan Masa Silam

100 Tahun Bale Agung, Sebuah Keagungan Masa Silam

Dan, inilah Bale Agung. Jejak kesilaman Kulon Progo yang hingga kini masih bisa ditelusuri. Bangunan bergaya kolonial itu, menjadi bagian dari kekayaan arsitekur yang mesti lestari, terutama sebagai prasasti perjalanan sejarah kota.

Tahun ini, genap 100 tahun usia Bale Agung. Masih kokoh setelah mengalami beberapa kali renovasi. Suasana masa silam, mengalir dari bangunan megah ini. Tembok tebal yang tinggi atau pintu-jendela krepyak klasik, adalah pintu menuju masa lalu.

Berada di komplek Pemkab Kulon Progo, setiap hari, saya lewat Bale Agung. Semua yang masuk ke kawasan ini, juga akan dengan mudah bertemu dengan gedung yang terlihat paling beda. Apalagi bangunan lainnya, tampak sebagai bangunan yang jauh lebih muda.

Memang, seperti umumnya bangunan tua di Kulon Progo, sangat sedikit catatan yang bisa dibaca. Juga gedung Bale Agung yang hanya dketahui diresmikan pada 1918 lewat condro sengkolo yang menjadi prasasti bangunan ini. Di prasasti yang hingga kini masih menempel di sebuah dinding bangunan, tertulis Ngesti Prayogi Samadyaning Siniwi.

Dalam tradisi Jawa, condro sengkolo sangat umum ditemukan di sebuah bangunan, peristiwa, atau tahun-tahun penting. Tapi memang, bangunan Bale Agung yang bertulis Ngesti Prayogi Samadyaning Siniwi, tidak diketahui persis siapa arsiteknya, atas perintah siapa, untuk kebutuhan apa.

Rangkaian kata Ngesti Prayogi Samadyaning Siniwi oleh priyayi Jawi bisa diberi makna angka 8191. Sebuah angka sandi yang harus dibaca  terbalik, 1918.  Tahun berdirinya Bale Agung semakin jelas pada prasasti kedua di sisi kanan yang tercetak kata Bale Agoeng 1918.

Tidak banyak ditemukan catatan tentang Bale Agung sebelum masa penyatuan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarto. Itu artinya dalam rentang 43 tahun sejak berdiri 1918 hingga 1951, gedung ini tak banyak diketahui fungsinya. Catatan Bale Agung paling penting yang bisa dibaca adalah sebagai tempat ditandatanganinya kesepakatan meleburnya Kulon Progo dan Adikarto pada 1951. Selanjutnya, proses peleburan instansi-instansi di bawah Adikarto dan Kulon Progo, dilakukan di Bale Agung.

Selama ini, masyarakat kota Wates, mengenal Bale Agung sebagai museum. Di sana, tersimpan benda-benda purba tinggalan masa Mataram Kuno. Ada yoni, bata kuno, mata uang kuno, lesung batu, lumpang batu, serta ganesha. Sebuah pusaka berasal dari Kabupaten Kulon Progo sebelum peleburan, berupa Kentongan Gorobongso, juga pernah disimpan di Bale Agung. Sementara itu, masyarakat Wates yang lebih tua, mengenal Bale Agung sebagai balai pertemuan dan rapat-rapat penting Pemerintahan Kabupaten Kulon Progo. (st)

About redaksi

Check Also

Jam 2 Mau, SMPN 4 Tambak & PPKP Baksos nang Sangkrek Kokap

Akhirnya, Bhakti Sosial dengan melakukan droping air bersih ke Dusun Sangkrek, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *