Home / MAF / Tradisi Minum Rempah Merah Warisan untuk Anak Cucu
Endang Widowati, Owner Rama Shibori Yogyakarta, saat menyampaikan penjelasan.

Tradisi Minum Rempah Merah Warisan untuk Anak Cucu

Dialog Tradisi MRM di Aula SMA Negeri I Kokap pada Senin, 24 Juni 2019, berjalan dalam  suasana yang gayeng.  Burhanuddin, Ketua Karang Taruna Kecamatan Kokap, menjadi moderator.

Pesertanya dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat, PDM Muhammadiyah Kulon Progo, SMA I Kokap, SMK Negeri Kokap, SMP 1 Kokap, SMP 2 Kokap, SMP 3 Kokap, SMP Muhammadiyah 1 dan 2 Kokap, TP PKK Kecamatan Kokap, Karang Taruna Kecamatan Kokap, TP PKK dan Karang Taruna Desa se Kecamatan Kokap.

Hadir pula sebagai narasumber sekaligus sebagai relawan Tradisi MRM, adalah Lia Gresia Andarina, Ketua Yayasan Bule Mengajar, Aprima Yumastuti, Owner Ayusti Griya Busana Yogyakarta, dan Endang Widowati, Owner Rama Shibori Yogyakarta. Bertindak sebagai fasilitator adalah Agus Triantara, Sekretaris Umum Bakor PKP, Jakarta.

“Hari ini saya semakin bersemangat karena saya didukung oleh 2 orang sahabat lama Alumni SMP 1 Wates, ibu-ibu cantik yang siap jadi relawan Tradisi MRM. Saya berharap, kiprah kami bertiga ini sekaligus sebagai wujud darma bakti Alumni SMP 1 Wates untuk masyarakat Kulon Progo khususnya dan Indonesia pada umumnya. Mbak Endang Widowati, adalah pemilik Rama Shibori. Belasan tahun terjun di dunia garmen dan kini fokus di bisnis shibori dan eco print. Eco print adalah batik dengan proses kukus. Kita akan melakukan branding agar produk ini menjadi icon baru di Kulon Progo. Kita ingin jadikan Kokap sebagai rumah shibori atau pusat batik kukus Nusantara,”  papar Agus Triantara mengawali acara dialog.

Hari ini, tambah Agus Tri, dirinya juga reuni dengan Mbak Aprima Yumastuti, setelah 36 tahun berpisah. Kalau mbak Endang fokus pada produksi kainnya, maka mbak Aprima dengan Ayusti Griya Busananya, siap melatih masyarakat Kokap bagaimana mengolah kain tersebut menjadi berbagai macam busana dan pernik-perniknya, dimulai dari desain sampai mewujudkan barangnya.

“Tidak hanya itu, mbak Aprima disamping memiliki jejaring di dunia tata busana, beliau juga memiliki jejaring di dunia tata boga. Oleh karenanya kita juga akan hadirkan pakar-pakar tata boga untuk melatih masyarakat Kokap agar bisa membuat kuliner desa rasa hotel bintang lima,”  lanjut Agus menjelaskan.

Agus menambahkan, dialog pada hari ini adalah tindak lanjut dari Seminar Sehari bertema “Guru Kulon Progo Songsong MEA 2015”, yang bertempat di PPSJ, Paingan, Pengasih pada tanggal 29 Desember 2015 lalu.

Tiga tahun setengah sudah, acara itu berlalu. Hadir sebagai narasumber waktu itu adalah Ibu Vipti, Kepala SMA N 2 Wates yang kini menjadi Kepala SMA I Kokap, dan Mbak Lia, Ketua Yayasan Bule Mengajar, yang telah berhasil dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasonal tahun 2017.

Tradisi MRM adalah sebuah ikhtiar untuk menciptakan ruang publik bagi para pelajar dan mahasiswa untuk belajar dan berlatih tentang apa saja, di setiap desa dan setiap bulan. Kami hanya ingin mengisi ruang kosong yang selama ini agak terabaikan oleh sistem pendidikan nasional kita.

Dengan adanya Tradisi MRM ini, maka pelajar dan mahasiswa akan dengan mudah menguji kecerdasannya, ketrampilannya, kepiawaiannya menjadi MC, menjadi narasumber, tampil berpidato, menari, menyanyi, diskusi, presentasi, tampil sebagai komedian, main teater, dan sebagainya.

Dan berbeda panggung pada umumnya, panggung yang kita selenggarakan nanti bukanlah dalam rangka nanggap pemain yang berharap mendapat honor, melainkan memberi kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjadi profesional. Konsekuensinya, siap tidak mendapat honor bahkan siap berkorban demi kemajuan dirinya. Oleh karenanya, agar tidak memberatkan panitia dan para pemain, pihak sekolah atau kampus harus berperan.

“Mereka yang tampil di atas panggung bukanlah utusan pribadi, melainkan duta dari sekolah atau PT yang telah terseleksi. Dalam waktu dekat kita akan merapat menjajagi untuk kerjasama dengan SMKI, SMM, SMSR dan ISI serta PT terkait untuk memperkuat program ini,”  papar Agus.

Peserta Dialog Tradisi Rempah Merah yang diselenggarakan oleh Bakor PKP bekerjasama dengan SMA 1 Kokap, Senin, 24 Juni 2019. Tampak hadir, Drs. Warsidi, M.Si

Sementara itu, Kasi Kesra Kecamatan Kokap, Rudiatun, mengaku mulai memahami tradisi MRM.  Itu baru bisa ia pahami setelah mengikuti paparan Agus Triantara, mulai dari pertemuan di pendapa Kecamatan Kokap, di Dapur Semar Wates, dan hari ini, maka saya mulai sedikit jelas. Dari yang pemahaman tadinya nol, sekarang masuk angka 1. Harapan kita, bahwa tradisi ini akan berlanjut sampai anak cucu dan cicit.

“Terungkap dari Run down acara Tradisi Minum Rempah Merah (TMRM), maka sebenarnya Tradisi MRM merupakan wadah yang luar biasa berupa tradisi untuk silaturahmi, diskusi, pengembangan literasi, unjuk prestasi dalam berbagai krerasi dan seni serta dalam pembentukan budi pekerti,”  ungkap Rudiatun.

Acara yang dimulai pada pukul 12.00 WIB dengan diawali makan siang tersebut tampak berlangsung sangat efektif dan bergairah. H. Juremi, selaku Pimpinan Majelis Pemberdayaan Masyarakat, PD Muhammadiyah sangat berharap program-programnya dapat segera bersinergi dengan Tradisi MRM.

Demikian pula Yayasan Bule Mengajar, justru heran mengapa Karang Taruna sampai hari itu belum menghubunginya. Karena Bule Mengajar sudah menyiapkan tim nya untuk mendukung Tradisi MRM ini. Mengajari bahasa Inggrissecara gratis. Dan Lia juga sangat berharap saat nanti kunjungan ke Australis, ke Maumere, NTT dan ke Amerika Serikat, sudah bisa mengenakan kain shibori maupun ecoprint (batik kukus) karya ibu-ibu dari Kokap, serta membawa rempah merah.

Melihat antusiasme peserta dialog, Kepala Kantor Kesbangpol sempat mengingatkan kepada Camat Kokap untuk bersiap-siap menghadapi perkembangan pembangunan di wilayah Kokap yang dramatis. Pak Camat tinggal ngawal semangat masyarakat agar tidak kendor.

Agenda selanjutnya adalah merumuskan bagaimana kelembagaannya agar kita bisa bekerja secara profesional. Seiring dengan kompleksitas persoalan, harus ada dewan pengarah yang berperan sebagai dewan dereksi. Dewan ini adalah relawan, yang bekerja tanpa mengharapkan imbalan. Dan Dewan Pelaksana yang akan berperan sebagai Manajemen yang bekerja secara profesional.

“Sebelum kita menyelenggarakan Tradisi MRM di kecamatan pada bulan Juli, kita akan segera rapat pleno panitia. Kapan tanggal dan tempatnya segera kita putuskan,” lanjut Agus sebelum akhir acara. (agt)

About redaksi

Check Also

Hingga Malam Ini 1.500 Kaos Jalan Sehat Bersama Pak Hasto Dibagikan

Sepanjang pagi ini, panitia Jalan Sehat Bersama Pak Hasto sangat sibuk. Hingga petang, para peserta …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *