Home / KANGBARNO / Terima Kasih Ki Seno Nugroho & Ki Dukuh Nganjir

Terima Kasih Ki Seno Nugroho & Ki Dukuh Nganjir

Meninggalkan Nganjir, dusun saya di Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo, ada kelegaan yang merangsang tenang. Nonton wayang memang memberi efek lapang di dada, selain rasa syukur karena bisa bertemu dengan begitu banyak orang dalam suasana penuh kegembiraan.

Saya ngebyar alias nonton sampai tancep kayon menjelang fajar. Tentu saja, sambil menahan ngantuk atau sesekali kepala terkulai karena akhirnya takluk pada kantuk yang menutup seluruh kesadaran panca indra untuk tetap terjaga. Itu biasa. Nonton wayang sambil terlelap adalah lumrah. Toh, makna nonton wayang, sejatinya bukan terletak pada kemampuannya mendengar ki dalang mbabar cerita tanpa ngantuk.

Bagi orang Jawa, yang utama dari nonton wayang adalah ikut dalam upacara ageng wayangan. Bisa sambil tiduran untuk kemudian tidur beneran, bisa disambi jajan, melihat-lihat suasana, atau jagongan dengan penonton lain sembari ngopi.

Saya melihat sendiri saat wayangan di Dusun Nganjir. Tidak semua penonton bisa menyaksikan langsung Ki Seno Nugroho memainkan wayangnya. Hanya ratusan orang, yang duduk di atas rumput, persis di depan panggung. Atau tetamu undangan yang duduk di kursi di di belakang penonton yang nglesot di atas rerumputan. Selebihnya, ribuan penonton lain, memilih ada jauh di belakang kursi sehingga hanya bisa mendengar suara Ki seno dari pengeras suara. Juga yang ada di samping kiri dan kanan panggung.

Nonton wayang adalah merayakan lestarinya hubungan bermasyarakat, bersahabat, dan berkerabat. Bukankah kalau soal lakon wayang, semua orang Jawa sudah hafal di luar nalar, setiap detial cerita Ramayana dan Mahabarata? Tanpa menyimak janturan ki dalang, orang Jawa sudah hafal seluruh rangkaian lakon yang sedang dimainkan. Pada sementara orang (biasanya yang ‘gila’ betul pada wayang) bahkan hafal setiap diksi tertentu dari seorang dalang.

Sebagai sebuah perayaan, wayangan menyediakan semua hal yang dibutuhkan penonton. Dan, ribuan penonton yang menyemut di Lapangan Nganjir, merasa sangat nyaman karena wayangan malam itu, diorganisir dengan sangat baik oleh Ki Dukuh Nganjir. Lapangan yang begitu lega, dikelola dalam tata letak yang menarik.

Panggung ada di sisi utara lapangan menghadap selatan. Lalu, di depan panggung ada ruang lapang yang dikelilingi bangku-bangku undangan, dengan bangku utama ada persis di muka panggung berjarak 200an meter.

Setelah tenda yang diberi garis batas tali rapia, ada hamparan rumput yang masih luas. Lalu, agak kebelakang, lagi-lagi ada garis rapia untuk membatasi sepeda motor yang wajib dititipkan. Nah, di barisan paling belakang, berjajar mengelilingi lapangan para penjaja makanan, mainan anak, atau aneka jualan lain. Ada selasar yang memudahkan calon pembeli berjalan.

Dari cara panita menata lapangan saja, sudah terlihat bahwa acara ini digarap dengan sangat baik. Penonton bisa memilih tempat di mana saja, termasuk duduk di kursi undangan setelah tetamu penting mengundurkan diri. Di sini, penonton juga bisa ikut mencicipi hidangan dari segala macam rebus-rebusan yang datang mbanyu mili.

Sementara itu, penonton yang memilih menghampar di atas rumput di sekeliling area para undangan, juga tidak terganggu misalnya saja oleh para pedagang atau motor yang sembarangan parkir. Segala kenyamanan (juga keamanan) menonton semakin terjamin karena panitia hanya menyediakan satu pintu masuk untuk penonton yang membawa motor.

Saya melihat cara Pak Dukuh mengorganisasi wayangan ini, benar-benar lega. Sebab, dengan begitu, kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bisa diminimalisir. Apalagi, ki dalang lengkap dengan seluruh kru, panitia, penonton, hingga warga Nganjir memang belum banyak yang masuk sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Semoga setelah wayangan (yang di dalamnya) terselip sosialisasi pentingnya Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, tumbuh kesadaran untuk ikut BPJS Ketenagakerjaan, sehingga semua bisa terlindungi.

Beruntung, cara kerja Ki Dukuh Nganjir yang rapi menjamin semua selamat. Akhirnya, saya bisa tenang menonton Ki Seno membabar lakon Parto Kromo. Inilah cerita yang bagi orang Jawa dianggap sebagai doa bagi para pengantin atau mereka yang mampu melanggengkan cinta hingga tua, seperti cinta Raden Parta dan Dewi Bratajaya.  Terima kasih Ki Seno Nugroho dan Ki Dukuh Nganjir.

Sampai pagi, saya menunggu gaya Ki Seno menyudahi cerita Parto Kromo. Ada klimaks romantis, yang saya nantikan saat Raden Arjuna dan Dewi Rara Ireng akhirnya bersanding di pelaminan agung dalam restu para dewa sebagai penurun wiiji ratu. (*)

About redaksi

Check Also

Ki Setyo Budi, Bakal Calon Bupati Kebumen-9: Berkarib dengan Kiai Pujiman Ali Wonokromo

Menelusur wilayah Kebumen bagian Utara, kita akan sampai di Desa Wonokromo, desa di perbukitan yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *