Home / KANGBARNO / Siti Maryam: Perempuan harus Maslahat untuk Masyarakat

Siti Maryam: Perempuan harus Maslahat untuk Masyarakat

Aktivis perempuan Bekasi yang tergabung dalam wadah organisasi Muslimat NU terus melakukan konsolidasi. Mereka terus merapatkan barisan. Dengan berkelakar, para aktivis perempuan ini, menyebut dirinya “The Power of Emak” yang pengabadiannya demi kemaslahatan masyarakat.

Siti Maryam yang mengkomandoi aktivis perempuan menggerakkan setiap ada kegiatan. Termasuk di bidang politik. “Mengapa perempuan aktif di bidang politik sulit sekali,” ujarnya

Tidak semua peremluan mau, juga tidak semua perempuan bisa. Banyak kendala, selain kodratnya perempuan di rumah, juga keterbatasan lain.”Izin suami menjadi kunci. Kalau tidak ada izin suami, tidak bisa. Jalannya juga tersendat, mengurus rumah tangga yang jadi kewajibannya bisa terbengkelai,” tambahnya.

Siti Maryam mengakui semua itu. Apalagi,  ia juga memiliki kesibukan yang padat. Termasuk mengajar dan mengurus TK Islam Zaid Bin Tsabit yang ia dirikan.

Benar. Ia memang menjadikan TK Islam Zaid Bin Tsabit sebagai awal kiprahnya di masyarakat. Oleh karena itulah, ia mengaku tidak ingin meninggalkan kebiasaaan mengajar, meski menjalani proses pendaftaran dan kesibukan yang padat.

Siti Maryam mengaku tetap semangat, meski penat. Tetap bergairah meski badan mulai pegal. “Perjuangan membutuhkan kesungguhan, perjuangan membutuhkan pengurbanan,” katanya.

Maslahat menurutnya menjadi kata kunci. Kemaslahatan bagi orang banyak menjadi bagian dari perjuangan dimanapun. Partai politik demikian juga, menjadi ladang berhidmat memperjuangkan kemaslahatan orang banyak.

Tetap mengajar anak didiknya, memang sudah menjadi komitmen Siti Maryam. Itulah dunia yang telah membesarkan namanya. Ia juga seperti sudah tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan. Sebab, hidupnya memang tidak pernah jauh dari bangku sekolah.

Siti Maryam masih sangat ingat, menjadi guru adalah cita-citanya. Itu yang membuatnya, sudah mengajar sejak masa remaja. Saat itu, ia masih duduk di bangku madrasah tsanawiyah.   Menginjak madrasah aliyah, Siti Maryam mengajar majelis taklim di kampung-kampung. Setamat pendidikan tinggi, kegemaran mengajar tetap melekat hingga kini.

Merampungkan Sekolah Dasar  tahun 1982, sang ayah, Muhammad Salim, mengantar Siti Maryam ke Pendidikan Islam El Nur El Kasysyaf (PINK) Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Masuk pesantren tidak langsung diterima, karena harus mengikuti pelajaran tambahan setahun untuk menyelaraskan ilmu SD dan madrasah. Baru tahun kedua resmi diterima sebagai santri.

 

Di pesantren hingga menamatkan pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Shalahuddin Al Ayyubi (Inisa) di kampus yang sama, Siti Maryam terus mengajar hingga menjalani rumah tangga, bahkan ketika kedua anaknya berangkat remaja dan dewasa. Belajar dan mengajar  sudah menyatu menjadi jiwa yang tidak terpisahkan.

Melihat perjalanan hidupnya itu, menjadi tidak mengherankan jika sampai saat ini, Siti Maryam tidak pernah absen mengajar murid-muridnya. Padahal kesibukannya di luar mengajar juga sangat padat. Sebab, ia aktif di banyak organisasi mulai dari organisasi pendidikan, sosial, agama, hingga politik.

Di lingkungan pendidikan, Siti Maryam bergabung dalam Himpunan PAUD Indonesia (Himpaudi), Ikatan Guru Taman Kanak-kanak (IGTK), serta Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI). Sedang di organisasi kemasyarakatan menjadi pengurus Muslimat Nahdlatul Ulama, Badan Kontak Majelis Taklim.(mg)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *