Oleh : Bambang Iss Wirya.
“Kutu buku itu anti sosial” adalah mitologi lama yang sudah tidak _relate_ dengan perkembangan zaman. Bisa jadi karena secara ekstrem tradisi membaca sudah nyaris memudar untuk tidak mau dikatakan hilang.
Saya sering merasa menjadi “orang asing” saat saya menjadi satu-satu orang yang membaca buku di ruang publik. Di angkutan umum, terminal, bandara, stasiun, di mana pun, saya selalu menyempatkan membaca. Di tas selalu tersimpan buku, apapun judulnya.
Rasa aneh menyergap. Saya tiba-tiba menjadi eksklusif, membaca buku di tengah orang- orang yang suntuk dengan gajet. Ya sudah, itu hak mereka jualah.
Eksklusivitas saya itu sesekali malah mencuri perhatian orang. Di atas angkutan umum, seorang penumpang (wanita) diam-diam memperhatikan saya.
Buku yang saya baca rupanya menarik perhatian dia.
Sang ibu muda mengaku juga suka membaca sambil melirik buku yang saya pegang. “Kebetulan saya lagi selesain S2 di UI Depok,” aku dia yang lantas mengaku juga dia seorang dosen di Semarang.
Pada ketika yang lain, saya berada di pelosok desa, di sebuah rumah di Desa Sumowono Kecamatan Sumowono Kab Semarang. Bukan rumah desa, tapi sebuah rumah tembok yang sepertinya rumah warisan. Di teras dipajang rupa-rupa buku. Saya harus beli, batinku.
Pemilik rumah seorang ibu sepuh menyambut dengan mata berbinar.
“Buku-buku itu tidak saya jual,” kata si ibu.
“Wah, bukunya berat dan aneh-aneh,” kata saya.
“Saya pensiunan LIPI. Mengapa banyak buku di teras karena tidak ada lagi ruang untuk menyimpannya,” kata si ibu.
Pada suatu siang yang lain lagi, di atas Bus Rapid Transit (BRT) aktivitas saya membaca diusik seorang lelaki.
“Bapak masih sempat membaca?” kata si lelaki.
“Saya suka menulis, jadi saya harus banyak membaca,” sahut saya, sambil menyebut nama.
“Ya, ya, saya sangat familiar dengan nama bapak,” balas dia.
Saya bangga menjadi “kutu buku”. Menjadi orang asing justru mempertemukan dengan orang-orang eksklusif juga.(***)
LengkongArt 25 September 2025.








