Home / KANGBARNO / Mencari Ketoprak Keliling yang Hilang

Mencari Ketoprak Keliling yang Hilang

Ketoprak, kini tak lagi berjaya. Era ketoprak tobong yang dulu sempat membuat gempar Jombokan, hilang ditelan zaman. Dalam ingatan masyarakat Jombokan, ketoprak tobong, terakhir kali main di era 70an.

Saat itu, yang main kelompok ketoprak yang namanya tidak terlalu kondang, mambuat panggung di Mbakungan, tepatnya di kidul ril sepur. Penonton selalu mbludag, sampai-sampai gedhek yang disulap menjadi gedung pementasan, jebol karena tak mampu menampung penonton.

Tapi semua itu sudah berlalu. Tak ada lagi ketoprak keliling. Kesenian rakyat ini hanya sesekali dimainkan oleh para penggede yang ingin bernostalgia. Di Kulon Progo memang mulai bermunculan sanggar yang berusaha menghidupkannya, tapi tetap kalah sama encling, jatilan, dan angguk.

Lalu, mari menyeberang ke Sumatera, melihat Ketoprak Dor, sempalaan ketoprak Jawa yang dimainkan para imigran dari tanah Jawa. Kesenian ini dikembangkan oleh masyarakat Jawa yang lahir di perantauan sebagai pekerja perkebunan. Hingga saat ini, Ketoprak Jawa gaya Sumatera itu, justru masih hidup dengan baik.

Ketoprak Dor muncul di kalangan masyarakat Jawa yang bermukim di Deli yang belakangan menyebut  dirinya  sebagai Pujakesuma singkatan dari putra Jawa kelahiran Sumetera. Namun berbeda dengan ketoprak yang ada di Jawa, kesenian ini memiliki ciri khas yang tidak ditemukan di Jawa. Salah satunya berupa alat musik yang digunakan yakni harmonium dan gendang besar (dol). Bahkan tidak menggunakan gamelan.

Perbedaan lainnya adalah dari penampilan dan cerita-cerita yang dibawakan. Berbeda dengan kesenian serupa di Jawa  yang masih disiplin  menggunakan cerita-cerita babad dan sejenisnya, Ketoprak Dor  sudah lebih bebas dalam menerapkan cerita. Meski masih menggunakan penokohan, setting dan tema-tema yang lazim  dikenal dalam ketoprak  Jawa, tapi pada Ketoprak Dor semua itu ditampilkan secara lebih bebas.

Perbedaan lainnya adalah pada alat musik  sebagai iringan serta penggunaan bahasa. Untuk musiknya, meski syairnya masih menggunakan bahasa  Jawa atau komposisinya diambil dari lagu-lagu klasik Jawa, namun iramanaya sangat kental dipengaruhi oleh musik Melayu (Deli) sehingga terasa aneh. Sedangkan bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Jawa dan Melayu yang diaduk sedemikian rupa.

Tidak ada catatan pasti kapan kesenian ini mulai muncul. Tapi diyakini berkaitan erat  dengan migrasi orang Jawa  ke Deli untuk menjadi pekerja di sejumlah  perkebunan pada masa kolonial. Karena itu Ketprak Dor juga kerap dilihat sebagai sebuah fenomena  sosial, bukan semata-mata sebagai produk kesenian.

Di Tanah Deli, terdapat kelompok Ketoprak Dor dengan nama El Mars. El Mars adalaha kependekan dari  Langen Margi Agawe Rukun Sentosa. Kelompok ini dapat dikatakan sebagai Ketoprak Dor tertua karena sudah berdiri sejak tahun 1950-an.

Pada masa jayanya hingga Tahun 1960-an kelompok ini sangat dikenal di Deli. Kelompok ini banyak manggung di berbagi daerah d Sumatera Utara dan memiliki komunitas yang nota bene kebanyakan  orang Jawa seperti di Langkat, Deli Serdang, Binjai, Labuhan Batu, dan daerah lainnya.(tom)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *