Home / KANGBARNO / Kadipaten Pakualaman Labuhan Sukerto nang Nglagah

Kadipaten Pakualaman Labuhan Sukerto nang Nglagah

Jumat, 21 September 2018, ada ritual khusus di Pantai Glagah. Sejak pagi hingga selepas siang, digelar labuhan sukerta dari Kadipaten Pakualaman Jogjakarta. Inilah tradisi tahunan setiap bulan Suro.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, Untung Waluyo menjelaskan bahwa tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal 10 bulan Sura. Labuhan sukerto yang diselenggarakan di Pantai Glagah Temon Kulonprogo, merupakan  momentum menghaturkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar bumi dan alam semesta tetap selamat, aman dari ancaman bencana.

Para pelancong yang datang di Pantai Glagah terlihat mengikuti prosesi ini. Selain, tentu saja bisa melihat pasukan khas berseragam merah dan prajurit plangkir berjalan dari Pesanggrahan Glgah menuju Pantai. Mereka mengkawal kirab gunungan pakaian raja dan permaisuri Kadipaten Pura Pakualaman, bukan hanya gunungan pakaian, mereka juga mengkawal gunungan sayur-mayur dan jajanan tradisional.

Semua gunungan dan benda-benda dido’akan bersama-sama di Pesanggrahan Glagah, sebelum akhirnya dilarung ke segoro. Terlihat, suasana sakral mendominasi saat setelah dilaksanakan upacara dan do’a, semua uborampe dikirab menyusuri jalan menuju pantai.

Masyarakat dan wisatawan yang menunggu di pantai tidak sabar menunggu acara Labuhan ini, kirab gunungan sesampai di pantai Glagah selain pakaian raja dan permaisuri dilarung atau dilabuh, gunungan sayur sayuran menjadi rebutan para pengunjung saat itu.

Seorang penduduk Glagah bernama Suparjo merasa senang bisa ikut berpartisipasi dalam labuhan, setelah berebut gunungan dengan warga lainnya, ia berhasil mendapatkan seikat padi utuh.  “Senang sekali, saya dapat informasi ada labuhan ini, setiap tahun ada,” ucap pria 62tahun itu, sambil menunjukkan hasil gunungan yang berhasil direbutnya.

Labuhan Sukerto merupakan cara melestarikan warisan leluhur. Larung pakaian raja dan permaisuri bermaksud untuk menolak bala atau keburukan, agar keluarga Keraton Pakualaman, serta warga DIY terhindar dari malapetaka, hidup tenteram, damai dalam bermasyarakat. (yad)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *