Home / KANGBARNO / Hari ini, Mari Mengenang Sastrawan ‘Pengakuan Pariyem’ Linus Suryadi AG

Hari ini, Mari Mengenang Sastrawan ‘Pengakuan Pariyem’ Linus Suryadi AG

3 Maret 2018. Hari ini, Linus Suryadi, penyair yang masyur dengan prosa liris Pengakuan Pariyem berulangtahun. Andai masih hidup, sastrawan kondang itu berusia 67 tahun. Ia meninggal dalam usia 48 tahun pada  30 Juli 1999.

Linus adalah bagian dari sejarah kesusastraan Jogja. Ia lahir di era kejayaan Persada Klub, sebuah komunitas sastra yang dipimpin Umbu Landu Paranggi yang menjadikan Malioboro sebagai gudang kesenian. Itu terjadi setelah ia lulus SMA di tahun 1970an. Sejak itulah, nama Linus dikenal, terutama karena karya-karyanya mulai diterbitkan di koran.

Tujuh tahun kemudian, buku pertamanya terbit, berupa cerita anak-anak berjudul Perang Troya. Tapi setahun sebelumnya, pada 1976, Linus telah menghasilkan sebuah kumpulan puisi yang diberi tajuk Langit Kelabu.

Perjalanan karir berikutnya, dihabiskan di ruang redaksi koran lokal Jogja. Setidaknya, selama tujuh tahun, Linus menjadi Redaktur Bernas sebelum diangkat menjadi anggota Dewan Kesenian Jogjakarta. Dari tahun 1986, ia berada di DKY selama tiga periode hingga 1996.

Lima tahun sebelum menjadi anggota DKY, atau pada 1981, prosa lirik yang sangat fenomenal berjudul Pengakuan Pariyem, lahir. Meski menulis lebih dari 20 buku, yang dianggap sebagai mahakarya Linus Suryadi AG adalah Pengakuan Pariyem. Prosa yang menjadi tonggak kesusastraan modern itu, juga telah diterjemahkan dalam banyak bahasa, mulai dari Inggris, Perancis, hingga Belanda.

Setahun setelah menulis Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi diundang untuk mengikuti Program Menulis Internasional di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Setelah itu, ia tampil dalam The Indonesian Cultural Festival di London, Inggris. Tidak sendirian, melainkan bersama sastrawan-sastrawan kelas satu seperi Sapardi Djoko Damono dan Subagio Sastrowardoyo.

Kepenyairan Linus memang diakui dunia. Itu pula yang membuat pemerintah memberikan sejumlah penghargaan. Dari Pemerintah Jogjakarta, pada 1984 Linus mendapat Hadiah Seni untuk Bidang Sastra. Sementara penghargaan dari Pusat Bahasa, diberikan kumpulan puisi berjudul Rumah Panggung.

Hari ini, di ulangtahunnya yang ke-67 dan 19 tahun setelah kepergian Linus Suryadi Ag, mari mengenangnya sebagai tokoh penting kesusastraan Indonesia. Bagi orang Jawa, lewat Pengakuan Pariyem, ia memberi tafsir pada kepasrahan yang sering dimaknai secara salah kaprah.(kib)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *