Gubernur Jateng: Hari Santri Berperan Penting dalam Menyiapkan Masa Depan Bangsa 

oleh -44 Dilihat

TEGAL,KABARNO.Com-  Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan peringatan Hari Santri bukan sekadar momentum mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa santri berperan penting dalam menyiapkan masa depan bangsa.

” Hari Santri ini untuk mengenang dan menghormati resolusi jihad dalam melawan penjajah yang dulu dilaksanakan oleh Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari dan para santri,” kata Luthfi saat menghadiri acara Jateng Bersholawat dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah di Jalan Pancasila, Kota Tegal, Rabu, 21 Oktober 2026.

Dalam acara tersebut, Ahmad Luthfi hadir didampingi oleh Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Turut hadir juga Forkomida Jateng, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono dan Wakil Wali Kota Iin Tazkiyatul Muthmainnah, serta sejumlah kepala daerah lain se-Jawa Tengah. Selain itu juga ada ulama Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar), dan Habib Bidin yang memberikan tausiyah dan memimpin selawat bersama.

Ia mengaku, mengapresiasi peran santri yang ada di wilayahnya. Provinsi ini setidaknya memiliki 5.400 pondok pesantren dengan 555 ribu santri. Hal itu merupakan modal sosial yang perlu terus diperkuat, agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berkontribusi di berbagai bidang.

” Sebagai bentuk apresiasi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa telah menginisiasi program Pesantren Obah. Melalui program tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memberikan beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren.”

Disiapkan Anggaran Pendidikan Luar Negeri dan Dalam Negeri

Pada 2026, lanjutnya, disiapkan anggaran Rp6,8 miliar untuk pendidikan di dalam negeri dan luar negeri. Peminat program ini mencapai 942 pendaftar. Dari program tersebut, 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok.

Beberapa hari lalu sebanyak 424 santri yang kuliah di Ma’had Aly juga diberikan beasiswa. Beasiswa juga diberikan kepada santri penggerak, yaitu santri yang aktif di organisasi intra dan ekstra kampus serta masih tinggal di pesantren.

Selain beasiswa, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga melanjutkan insentif guru agama, memberikan tali asih bagi santri penghafal Al-Qur’an, serta menyalurkan hibah dan bantuan renovasi pondok pesantren dan masjid.

Sebelumnya, pada 2025, insentif guru agama tercatat diberikan kepada 230.830 penerima, masing-masing Rp1,2 juta per tahun, dengan total anggaran kurang lebih Rp277 miliar. Program ini masih berlanjut pada 2026.

Tugas Santri dan Ulama Menjaga Bangsa dan Umat

Dalam kesempatan itu, Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo di Kabupaten Magelang, Muhammad Yusuf Chudlori menceritakan secara singkat bagaimana peran santri, kiai, dan ulama dalam resolusi jihad dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hal itulah yang kemudian mendasari lahirnya Hari Santri Nasional. Maka dari itu ia berpesan bahwa ada dua tugas para santri dan ulama, yaitu menjaga bangsa dan menjaga umat.

Dalam pesannya, tokoh yang akrab disapa Gus Yusuf juga menyinggung terkait kebakaran hutan dan lahan yang ada di Kalimantan dan Sumatra, serta kebakaran di Gunung Sumbing. Ia mengajak seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk berdoa bersama agar musibah di Indonesia segera berakhir.

“Kita berdoa untuk saudara di Kalimantan dan Sumatra. Kita juga meminta kepada pemerintah dalam rangka menjaga bangsa, orang serakah yang membakar hutan dan lahan agar segera ditangkap dan diadili demi kemajuan Indonesia. Santri punya tugas juga untuk menjaga bangsa dan menjaga umat,” katanya.

Terkait menjaga umat, Gus Yusuf menyampaikan bahwa kiai dan ulama memiliki peran dengan ilmu dan pendidikan. Ia juga berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang telah memberikan perhatian kepada 5.400 pesantren di wilayahnya. Juga perhatian kepada para santri dan guru ngaji.

“Saya minta perhatiannya ditambah, karena pesantren masih butuh perhatian lebih, butuh rekognisi, jangan setengah-setengah kalau mau melindungi santri. Pemerintah harus berterima kasih pada kiai di kampung, guru ngaji di madin dan madrasah, dan guru di sekolah karena beliau-beliau yang menjaga umat dari kerusakan,” jelasnya. (sup*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.