Home / DWIDJO / Api Cinta (46): Mumet Aku, Wagah Aku, Kata Mirah

Api Cinta (46): Mumet Aku, Wagah Aku, Kata Mirah

Hari-hari berjalan seperti sedia kala. Paidi-Mirah bersama-sama, berangkat dan pulang sekolah. Ketika di rumah masing-masing membantu orang tua mereka. Hanya sesekali keduanya bertemu. Bertegur sapa. Sesekali berbicang jika perlu, misalnya meminjam catatan pelajaran yang sama. Meski tidak benar-benar membutuhkan buku catatan, namun keduanya sering bertukar buku pelajaran.

Di sekolah keduanya aktif dalam berbagai kegiatan. Selain olah raga Paidi juga mengikuti kegiatan kepramukaan. Semua kegiatan dilakukan, terutama perkemahan. Halang rintang, jurit malam dan mendaki gunung. Menyusuri sungai dan pantai bahkan menjalajahi gua di antara lembah dan gunung. Hanya satu kegiatan yang sangat dibenci Paidi, baris-berbaris. Bukan apa-apa. Selain tidak menantang baris-berbaris kesannya tidak memberikan semangat juang yang tinggi.

Mirah lebih banyak menekuni bidang-bidang yang berhubungan dengan kerajinan tangan. Olah rasa dan kegiatan yang tidak banyak menguras tenaga. Olah raga, terutama senam lantai dan lebih khusus lagi loncat harimau sangat dibenci. Bukan karena kegiatannya yang terlalu berat, melainkan tantangan yang diberikan tidak sejalan dengan semangat kewanitaan. Tidak ada kelembutan, tidak ada nilai lebihnya kecuali fisik semata. Mirah lebih tertarik dengan ekstrakurikuler yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian.

Selain kesenian Mirah tertarik dengan ketrampilan berpidato. Menurut Mirah, seni mampu memberikan semangat kepada bangkitnya jiwa. Seni juga memberikan gairah bagi kehidupan yang lebih baik. Di sana ada intelektualitas, selain memerlukan kontemplasi juga mengharuskan kedalaman. Seni membutuhkan totalitas dalam mengolah jiwa dan dunia isi. Untuk itulah seni mampu memberikan pencerahan kepada siapa saja yang mendalami.

“Seni itu indah, perempuan senang dengan keindahan,” kata guru kesenian ketika menerangkan di depan kelas. Seni menjadikan dunia semakin indah. Siapa saja yang mengikuti kegiatan berkesenian, tentu akan memiliki keindahan. Perempuan menghendaki kehidupan dan segala sesuatu yang bernilai indah. Untuk itu kalau menghendaki keindahan hendaklah orang berkecimpung dalam dunia seni.

Seni menjadi bagian dari kehidupan manusia sejagad. Dunia mengakui seni dapat mempersatukan berbagai bangsa dan bahasa di dunia. Bangsa di muka bumi sangat beragam, juga bahasanya. Namun ketika seni muncul maka akan mempertemukan berbagai elemen warga bangsa di dunia menjadi satu. Seni menjadikan kehidupan lebih bermakna. Makna kehidupan yang lebih mendalam.

“Seniman itu terkadang nyleneh, tidak aturan dan sembarangan,” Paidi memberikan pandangannya. Seniman sering urakan, bahkan tatanan kehidupannya tidak layak. Maunya menang sendiri. Kehidupan seniman sering tidak teratur, kehidupan yang wajar diabaikan. Semuanya diperuntukkan bagi seni. Dirinya sendiri bahkan diabaikan hanya untuk mengejar satu kata seni. Padahal seniman juga manusia, makhluk sosial yang perlu bermasyarakat, beranak-pinak dan menjalani kehidupan sebagaimana layaknya manusia biasa. Seniman juga memiliki anak dan istri, memiliki kehidupan yang didambakan. Seniman juga membutuhkan kehidupan yang layak.

“Mumet aku, wagah aku,” kata Mirah, Seni yang mendatangkan keindahan. Seni yang memberikan keindahan dan kenyamanan. Bukan seni yang menjadikan seniman terbengkelai. Seniman yang menjalani kehidupan indah boleh. Tidak semua seniman menjadi awut-awutan. Seniman juga memiliki masa depan yang lebih baik. Mereka dapat menjalani kehidupan layak, berkeluarga memiliki anak dan bermasyarakat sebagaimana layaknya manusia di masyarakat. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *