Home / DWIDJO / Api Cinta (27): Paidi Ikut Nggaru, Nderep & Manggul Pari

Api Cinta (27): Paidi Ikut Nggaru, Nderep & Manggul Pari

Paidi dan teman-temannya lupa daratan. Ketika mandi di kedalaman air yang tenang, biru menyegarkan semuanya terlupakan. Berjam-jam mereka dapat berendam di sungai. Kalau badan belum membiru kedinginan, mereka belum mentas, naik ke daratan. Pekerjaan yang membantu orang tua terlupakan. Begitu senangnya bermain di sungai, tugas yang dibebankan kepada mereka terbengkelai.

Repek, mencari kayu bakar untuk memasak tidak sempat dilakukan. Ngarit juga ditinggalkan. Pekerjaan rumah membantu orang tua tidak dapat dipenuhi. Tinggal simbok yang nyap-nyap. Apa saja menjadi salah. Di hadapan simbok semua menjadi keliru. Kalau sudah demikian siapa saja bakal kena semprot.  Tidak terkecuali Paidi, meski badannya belum cukup kuat untuk bekerja keras namun latihan bekerja keras diterapkan.

Paktuwo, kakek yang gagah perkasa turut memarahi. Meski tidak sampai memukul, kalau sudah Pakwo yang marah tidak ada yang dapat melawan. Semua harus tunduk terhadap setiap apa yang bakal terjadi, termasuk kalau harus menerima hukuman atas kesalahan yang dilakukan.

Selain mencari kayu bakar, Paidi juga harus ikut menggarap sawah. Sepulang dari sekolah, mencangkul dan sesekali ikut mbrujul, nggaru bahkan derep dan ani-ani serta memanggul padi yang selesai dipetik di sawah.  Pekerjaan yang melelahkan, menguras tenaga dan membosankan. Satu-satunya pekerjaan di sawah yang menyenangkan hatinya hanyalah derep karena setelah padi terkumpul dapat dipakai untuk urub.

Barter berbagai jajanan dengan padi yang dihasilkan dari memetik di sawah. Dawet menjadi menu favorit. Terik matahari yang menyengat akan sirna ketika dawet melewati tenggorokan.    Ada wajik, jadah, cenil, es lilin dan berbagai makanan khas yang dapat langsung ditukar dengan padi hasil memanen hari itu.

Apapun jenis dan bentuknya makanan yang dijajakan meski tidak istimema namun karena di tengah sawah yang membentang tetap akan mendatangkan selera. Hanya nasi dan lauk yang tidak tersedia. Umumnya petani membawa bekal makanan dan minuman dari rumah. Kalaupun berangkat pagi-pagi sekali, makanan akan dikirimkan menjelang tengah hari.

Sego wadhang, nasi yang dimasak sore dapat dijadikan sarapan pagi. Sedang untuk kiriman nasi disiapkan simbok menjelang tengah hari. terkadang hanya dengan jangan thewel, sayur nangka muda dan sambel terasi. Terasa nikmat luar biasa. Makanan apapun, kalau lauknya lapar dan haus akan mendatangkan selera. Kesederhanaan yang tergambar di sawah tampak nyata.

Lumpur sawah yang hitam pekat juga dapat menjadi tambahan selera ketika makanan terhidang. Sedangkan sendok tidak lazim dibawa serta untuk makan di sawah. Apalagi garpu, sama sekali tidak diperlukan. Selain merepotkan juga tidak praktis untuk berbagai keperluan makan di tengah ladang dan sawah membentang luas.

Suru yang terbuat dari daun pisang juga terasa tidak pas dengan suasana haus dan lapas di tengah sawah. Nasi kiriman untuk makan siang biasanya dibuat agak keras, lauk yang disiapkan juga sebatas tempe atau tahu. Hanya sesekali ikan asin dan sayur ditambah sambal yang menjadikan selera makin menjadi-jadi. Makan di tengah terik matahari, di bawah panas menyengat akan terasa nikmat luar biasa. Makanan apapun akan terasa menyegarkan. Apalagi jangan bobor, sayur bening yang ditambah santan secukupnya.(bersambung)

About redaksi

Check Also

19 orang Terjaring Operasi Yustisi Penerapan Disiplin Covid 19

Ngaglik, Kabarno.com Tim Gabungan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kecamatan Ngaglik digelar di Kalurahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *