Home / DWIDJO / Api Cinta (17): Nunggang Kerbau Nderum

Api Cinta (17): Nunggang Kerbau Nderum

Berbulan-bulan Paidi tidak dapat mengekspresikan kelincahannya. Kedua kaki yang menopang kegesitannya bengkak, bernanah dan mengeluarkan bau amis. Selama itu pula Paidi berdiam diri, tidak banyak bergerak juga tidak banyak bertingkah. Kebebasannya seperti terkungkung.

Tidak berapa lama setelah sembuh dari sakit yang menderanya, Paidi tetap dengan aktivitasnya yang tinggi. Sakit yang membelenggu selama ini, ternyata bukan menyurutkan agresivitasnya. Justru yang terjadi sebaliknya. Seperti lepas dari kungkungan, Paidi makin lincah saja.

Setelah pulih benar. Paidi kecil menyertai paman dan bibinya kemana pergi. Tidak ketinggalan ketika mereka ke sawah dan ladang. Menggebala ternak, termasuk kerbau dan gondhek yang selama ini dipakai untuk membajak sawah.

Paidi kecil gembira. Mendapatkan kesempatan bermain-main di sawah dan tanah lapang. Apalagi banyak teman sebayanya. Selain paman dan bibinya, ada anak seusianya yang turut menggembala. Meski Paidi belum benar-benar sebagai gembala, sebagaimana anak sebayanya. Namun Paidi merasa sebagai gembala. Menempatkan diri sebagai seorang yang akrab bergaul dengan gembalaannya.

Ketika mendapati kerbau yang besarnya 10 kali badannya membuat Paidi kecut. Padahal sangat ingin Paidi naik di atas punggung kerbau. Seperti teman-teman sebayanya enak bernyanyi-nyanyi di atas punggung si hitam kelam mengkilat. Paidi benar-benar menghendaki, meski ketakutan tidak dapat disembunyikan. Sejenak Paidi mengekerut nyalinya.

Di suatu kesempatan Paidi mengutarakan keinginannya duduk-duduk di atas punggung kerbau. Sembari membawa damen, batang padi yang disulap menjadi seruling kecil. Meniup terompet dari batang padi, mendendangkan lagu-lagu sambil duduk santai di punggung kerbau.

“Kepenak yo lik,”  Paidi sambil menelan air liurnya sendiri, namun tidak serta merta naik ke atas punggung kerbau. Nyalinya ciut menyaksikan tanduk kerbau yang melintang. Apalagi kerbau jantan yang geraknya lebih lincah. Paidi menunggu ajakan sang teman. Syukur bersama-sama duduk  di satu punggung kerbau yang kelihatan agak jinak.

Hal itu untuk mengurangi rasa ngeri terhadap si kerbau yang kelihatan gagah. Seumur-umur Paidi belum pernah merasakan enaknya nunggang kerbau. Itu pula sebabnya mengapa Paidi sangat berhasrat nunggang di punggung kerbau. Meski rasa takut menyerang, namun keinginannya sangat kuat. Apalagi ada teman sebayanya yang sungguh menikmati berjalan-jalan bersama gembalaannya di atas punggung kerbau.

Badan Paidi yang kecil. Susah untuk dapat menaiki sendiri kerbau yang tingginya mencapai dua kali tinggi badannya. Ketika kerbau tengah nderum, tiduran setelah kenyang makan rumput. Wajah kerbau yang nggayemi, saja sudah menakutkan. Merinding menyaksikan wajahnya yang garang, sambil terus mengunyah-ngunyah gigi dan gerahamnya.

Ingin rasanya nunggang kerbau nderum. Namun kerbau yang tengah nggayemi lebih terasa menakutkan. Seolah siap memamah apa saja yang ada di hadapannya. Apalagi air liurnya keluar, berbusa warna putih. Seperti Maesosuro dalam dunia pewayangan yang baru kembali dari pertapaan.

About redaksi

Check Also

Persiapan GRMB sudah Final, Besok Distribusi Terakhir Kaos Jalan Sehat

Persiapan acara Gayeng Regeng Mlaku Bareng (GRMB) Jalan Sehat Bersama Pak Hasto sudah final. Tim …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *