Home / DWIDJO / Api Cinta (13): Madsani jadi Lebih Sering Berdendang

Api Cinta (13): Madsani jadi Lebih Sering Berdendang

Tak Lelo Lelo Lelo Legung

tak lelo lelo lelo legung…

cup menenga aja pijer nangis

anakku sing bagus rupane

nek nangis ndak ilang baguse

tak gadang bisa urip mulyo

dadiyo satrio utomo

ngluhurke asmane wong tua

dadiyo pendekaring bangsa

cup menenga anakku

kae mbulane ndadari

kaya ndas butho nggilani

lagi nggoleki cah nangis

tak lelo lelo lelo legung

cup menenga anakku cah bagus

tak emban slendang batik kawung

yen nangis mudak gawe bingung

tak lelo lelo legung…

Demikian Madsani selalu ngemban anaknya yang baru seumur jagung. Setiap kali Madsani menemani anaknya. Mulutnya komat-kamit. Terkadang nembang. Berdendang dengan tetembangan yang dihafal. Terutama  ketika Madanom menyiapkan makanan. Selalu Madsani tidak habis-habisnya rengeng-rengeng. Menyanyikan tembang jawa yang mashur di kalangan orang tua.

Madsani berharap dapat mengantarkan anak-anaknya. Mencapai kehidupan yang diidam-idamkan. Menjalani kehidupan yang lebih baik di kelak kemudian hari. Madsani tidak hendak generasi yang ditinggalkan mengalami nasib serupa dengan dirinya. Kehidupan di hari yang akan datang harus lebih baik, amenangi zaman rejo. Bukan sebaliknya seperti jangka jayabaya, amenangi zaman edan.

Setelah lelah bekerja seharian. Madsani masih sempat mbopong anaknya. Meski masih basah oleh keringat dan bau yang khas. Madsani tidak hendak meninggalkan sedikitpun kesempatan berdendang bersama anaknya. Meski anaknya masih bau kencur. Belum dapat diajak bicara namun Madsani tahu kalau nalurinya sebagai seorang ayah dapat berkomunikasi dengan anaknya.

Paidi yang masih bayi merah seperti mengetahui kehendak sang ayah. Meski tidak dapat mengungkapkan kecuali dengan menangis. Sesekali tersenyum. Ketika diajak bercanda memberikan respon. Tertawa, terbahak-bahak bahkan keduanya seperti tengah bercerita tentang masa depan yang didambakan.

“Oak… oak… oak,” bagitu cara bayi berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Nyaring membelah kesunyian. Tidak pagi-pagi buta. Terkadang siang hari, bahkan sering tengah malam. Ketika orang tuanya terlelap dalam tidur. Anak-anak seperti membangunkan dari tidurnya yang nyenyak. Kalau sudah demikian Madsani dan Madanom bangun bersama-sama. Mengurus anaknya yang terjaga. Meski mata keduanya masih berat, namun anaknya lebih memerlukan kehadiran mereka.

Tak lelo lelo lelo legung …

Madsani jadi lebih sering berdendang. Ketika berusaha menidurkan anaknya. Ketika hendak berangkat ke ladang. Ketika baru saja menaruh cangkul dan sabit sekembalinya dari sawah. Hampir tidak ada kesempatan yang terlewatkan. Madsani seperti tidak hendak berpisah dengan anak yang diidamkan sejak sangat lama. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *