SIDIKARA PUSAKA: Doa Bersama & Dialog Budaya Brajabumi

oleh -316 Dilihat
oleh

Waktu terus bergulir.  Ia laksana raksasa yang tak tertaklukan.mereka yang lalai dengan waktu, akan dilahap nya, tanpa sisa.

Dan ini digambarkan dengan sosok Batara kala, sang penguasa waktu. Siapa yang mampu menaklukan waktu? Waktu tak terlawan, sebagai manusia kita hanya mampu beradaptasi dengannya.

Soal waktu, Leluhur kita sesungguhnya, melalui teknologi spiritual metalurgi kerisnya, mengingatkan melalui keris Panimbal luk 9, bahwa waktu yang telah berlalu tidak bisa dipanggil kembali.

Dan tanpa terasa, melewati beragam kisah, riwayat, cerita, serta berbagai dinamikanya, Brajabumi, berusia 9 Tahun. Usia remaja dalam terminologi manusia, yang dalam macapat, digambarkan melalui tembang kinanthi.

8 Agustus 2026, malam minggu pon ( radite palguna).

Bertempat di Sasana pambiwara kebumen TV, perkumpulan Tosan Aji brajabumi, memperingati hari ulang tahunnya yang ke 9. Angka sakral cakra mahkota, yang identik dengan kesadaran spiritual manusia.

Pada pengetan Nawa Warsa Hari lahir BRAJABUMI kali ini, dilakukan pemberkatan sidikara pusaka melalui upacara spiritual Sepuh Dilat besi membara, yang di pandegani oleh Ketua Umum Brajabumi, Ki Rama sugeng ( Kidung Pamungkas) yang juga seorang praktisi spiritual jawa.

Maka prosesi itu bukan atraksi magis semata mata, melainkan ritual yang ngemu makna filosofi adiluhung bahwa kita sebagai manusia, bisa menjaga lidah kita untuk tidak melukai orang, tentu hal ini selaras dengan makna pusaka sebagai piyandel dan juga sipat kandel. Menebalkan keyakinan, menumbuhkan percaya diri dan keberanian untuk menjalani hidup serta berusaha tidak menyakiti orang lain.

Menggunakan keris kyai kanda basuki, sidikara pusaka dilakukan, di awali dengan manekung suwung & manekung puja/ hastungkara, gerak mudra simbolisasi sedulur papat, (empat unsur elemen kehidupan) dilanjutkan dengan Prosesi Sepuh dilat sebagai wujud manunggalnya cipta rasa karsa, berpadunya unsur lanang (maskulin) dan unsur wadon (daya feminin), sebagai dasar gerak hidup manusia, menjadi penghubung antara alam atas dan alam bawah.

Dari sinilah, meskipun sidikara pusaka bernuansa prasaja, tidak mengurangi kekhidmatan dan kesakralannya. Gending pengiring, wangi kukus dupa, Lantunan kidung dikumandangkan, puja puji,doa dan mantra terus menerus dikucarkan. Di iringi gerak mudra dan sajen sebagai bahasa rupa sastra jendranya, yang merupakan kodefikasi sekaligus kristalisasi doa permohonan kepada Gusti hyang maha Agung.

Tentu Kasarasan, kawilujengan, karaharjan, kabegjan, karahayon serta pusaka kang mahanani adalah harapannya.

Selepas doa bersama, sidikara pusaka dan tumpengan kembul bujana, dilanjutkan dengan diskusi budaya, seputar keris tosan aji maupun spiritual jawa yang berlangsung hangat , akrab, dalam nuansa kebersahajaan.

Rum kuncaraning Bangsa Dumunung Haneng Luhuring Budaya. harum dan jaya serta tingginya derajat suatu bangsa terletak pada keluhuran budaya bangsa itu sendiri.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.