Semarang,KABARNO.Com– Nasib naas dialami Dwi Purwanto (42), warga Pekalongan, Jawa Tengah menjadi penipuan oleh oknum aparat kepolisian. Pasalnya, untuk memenuhi keinginan dan impian agar putranya bisa masuk pendidikan Akademi Kepolisian (Akpol), ternyata tertipu sejumlah oknum yang mengaku bisa memasukkan dalam pendidikan akademik kepolisian.
Mereka menawari zbisa memasukkan putra Dwi asal membayar sejumlah uang yang cukup fantastis, miliaran rupiah.
Dwi Purwanto rela menyerahkan uang kepada sejumlah orang yang menipunya. Orang tersebut mengaku memiliki jalur khusus dan bisa memasukkan putra Dwi masuk Akademi Kepolisian (Akpol).
Meski sudah membayar total senilai Rp2,6 miliar, putra Dwi Putranto justru gagal seleksi Akpol. Baru sadar merasa ditipu orang yang dikenalnya, korban pun melaporkan para pelaku ke Polda Jawa Tengah atas dugaan penipuan dengan modus menawarkan jalur khusus masuk Akademi Kepolisian (Akpol). Para pelaku menyebutnya “kuota khusus Kapolri”.
Namun demikian, hingga hari ini kasus yang dilaporkan Dwi kurang mendapat respon karena hingga kini para pelaku belum juga ditangkap dan diproses hukum.
Sejumlah pelaku yang dilaporkan Dwi diantaranya ada dua polisi yang bertugas di Polres Pekalongan. Keduanya adalah Aipda Fachrurohim alias Rohim, anggota Polsek Paninggaran, dan Bripka Alexander Undi Karisma atau Alex, anggota Polsek Doro.
Dua Warga Sipil Mengaku Adik Kandung Kapolri
Selain mereka, dua warga sipil bernama Agung dan Joko juga ikut dilaporkan karena diduga bersekongkol. Agung, yang mengaku sebagai adik kandung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dwi Purwanto (42) melaporkan ke empat pelaku karena meminta duit kepadanya dengan nilai bervariasi mulai ratusan juta hingga miliaran.
Sebagai korban, Dwi telah kehilangan uang mencapai Rp 2,65 miliar, tetapi anaknya gagal lolos seleksi dan uang tak kunjung dikembalikan.
Kasus bermula ketika Dwi menerima pesan WhatsApp dari Rohim pada 9 Desember 2024. Sepekan kemudian, Rohim menawari bantuan agar anak Dwi bisa masuk Akpol dengan biaya Rp 3,5 miliar.
“Katanya ini kuota dari Bapak Kapolri harus diselesaikan biaya Rp 3,5 miliar dengan skema Rp 500 juta dulu sebagai tanda keseriusan, sisanya setelah panpus (panitia pusat, red),” kata Dwi kepada awak media di Kota Semarang, Rabu (22/10/2025).
Meski begitu, Rohim terus berusaha meyakinkan Dwi dengan menyebut bahwa jalur tersebut bisa diatur melalui rekannya sesama polisi yang bernama Alex.
Tergiur dan Dijanjikan Diterima
Merasa tergiur dan dijanjikan bisa diterima , Dwi akhirnya menyerahkan uang Rp500 juta secara tunai kepada Alex di Kafe Converso Semarang pada 21 Desember 2024. Kemudian Rp 1,5 miliar lagi di rumah pada 8 Januari 2025.
“Dan setelah itu mereka minta uang lagi Rp 1,5 miliar di rumah saya pada 8 Januari 2025. Total Rp 2 miliar saya serahkan ke Alex secara tunai,” ujarnya.
Menurut Dwi, setelah penyerahan uang, dia sempat dipertemukan dengan seseorang bernama Agung yang disebut sebagai adik kandung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Dari pertemuan bersama Agung, Dwi dikenalkan dengan seorang sipil bernama Joko Witanto di Kediri, Jawa Timur.
“Setelah itu Joko meminta transferan kepada saya senilai Rp 650 juta yang saya transfer empat kali,” ujarnya.
Dari penjelasan yang diterimanya di Kediri, pengurusan anaknya masuk Akpol akan ditangani oleh seorang purnawirawan jenderal yang disebut “Babe”.
“Kalau Babe, saya lihat cuma lewat foto dan video yang dikirimin, tetapi anak saya pernah ketemu dengan Babe di Jakarta,” kata Dwi.
Saling Lempar Tanggung Jawab
Namun, setelah anaknya gagal pada tes tahap pertama, Dwi mulai curiga. Saat dikonfirmasi, para terlapor saling melempar tanggung jawab. Meski mengaku bersedia mengembalikan uang, hingga kini belum ada satu pun yang menepati janji.
“Saya sudah lapor ke Polda Jateng pada 9 Agustus 2025. Namun, kelihatannya belum ada perkembangan. Katanya sudah masuk penyidikan,” ujarnya.
Dwi mengatakan untuk memenuhi permintaan uang para terlapor, dia sampai menjual dua mobil milik kakaknya, Rubicon dan Mini Cooper senilai lebih dari Rp 1 miliar.
“Mereka sering datang mendadak, bahkan tengah malam, minta uang harus ada besok pagi. Saya sampai pontang-panting cari uang,” ujarnya.
“Saya percaya karena sudah kenal Rohim sejak 2011. Mereka bilang jalur ini kuota khusus langsung dari Kapolri,” katanya.
Kini, anaknya telah membuka lembaran baru dengan menempuh pendidikan di bangku kuliah. Dwi berharap kepolisian menindaklanjuti laporannya secara serius dan memproses pihak-pihak yang terlibat. “Saya cuma ingin keadilan dan uang saya dikembalikan,” ujarnya.(***)








