Home / KANGBARNO / Semua karena Corona

Semua karena Corona

Cerita Corona, memang selalu mengharu-biru. Membuat semoa lemas oleh cemas. Juga saya. Sebab, beberapa waktu yang lalu, saya sempat masuk rumah sakit gara-gara digigit nyamuk belang bernama Aedes Aegypti. Karena mulai muncul kasus virus Corona atau Covid 19, agak was-was juga bila terlalu lama dirawat.

Akhirnya, saya memilih merelakan diri berdiam di rumah untuk pemulihan. Kebetulan pula seminggu kemudian mulai dilaksanakan Work From Home atau Bekerja Dari Rumah, sehingga memperpanjang masa tinggal di rumah.

Untung Nita dan Endang yang kantornya dekat rumah sempat menengok, jadi bisa mengurangi kejenuhan berdiam menjadi pertapa. Biasanya, untuk mengusir bosan karena berhari-hari mengisolasi diri dalam rumah, saya mengunduh vitamin D gratisan dengan berjemur di bawah matahari.

Katanya cukup 15 menit dilakukan saat jam 10 pagi untuk meningkatkan imunitas. Kebetulan ada yang mengirim video untuk meningkatkan imunitas, jadilah saya ikuti petunjuk menepuk-nepuk bagian lengan, pinggang, dada sampai perut dan memijat telapak kaki demi meningkatkan daya tahan tubuh.  Semoga saja petunjuk itu benar adanya sehingga saya makin sehat.

Kadang kalau merasa bosan, saya menggambar desain baju untuk beberapa kain yang masih menumpuk di lemari. Harapannya, bila sudah benar benar sehat, akan dibawa ke penjahit.

Saat itu, sebenarnya beberapa teman masih masuk kantor secara bergiliran dalam seminggu. kemudian berbagai himbauan datang agar masyarakat Stay at Home, Work From Home, bahkan Social Distancing yaitu Larangan Berkumpul/bikin acara yang melibatkan banyak orang.

Semua itu dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular yang disebabkan oleh virus Corona atau Covid-19. Tentu upayanya dengan mengurangi kontak antara orang yang terinfeksi Covid-19 dengan orang lain yang tidak terinfeksi, sehingga dapat meminimalkan penularan virus Corona tersebut.

Namun sepertinya himbauan tersebut masih belum mempan dan belum dianggap serius sehingga keluar himbauan untuk melakukan Physical Distancing atau menjaga jarak secara phisik karena bertambahnya jumlah ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang positif sakit terkena virus Corona.

Tentu hal ini perlu kewaspadaan yang tinggi atas kondisi bencana yang bukan bencana alam, apalagi telah ada paramedis atau tenaga kesehatan yang meninggal karena tertular virus corona dari pasien yang ditangani. Kita semua wajib berdoa agar badai virus corona segera berlalu. Apalagi sebentar lagi bulan Ramadhan dan Lebaran, tentu membuat gundah gulana apakah bisa menjalankan taraweh atau bisa mudik lebaran bertemu sanak saudara.

Nah, yang menggembirakan (atau justru memprihatinkan ya?) di balik keprihatinan tersebut, ada juga yang mampu membuat guyonan bahwa makin lama di rumah makin pusing karena kemana saja dalam pantauan istri.

Ada juga yang kirim gambar denah rumahnya dimana semua lokasi jalan-jalan, maksudnya jalan-jalan di dalam rumah sudah berapa kali disinggahi. Ada juga yang mengirim lewat medsos gambar pintu lemari es yang rusak karena keseringan dibuka. Ada juga yang mengirim web link cerita serial Kho Ping Ho, Mahabarata atau serial Asterix dan Tintin untuk mengatasi kebosanan di rumah.

Dan, yang paling kreatif, ada yang sempat-sempatnya mendubbing film Korea Crash Landing On You yang lagi nge hits dengan bintang idola si ganteng Hyun Bin dan Son Ye Jin yang cantik dikaitkan dengan kondisi bencana virus corona.

Ternyata meminta orang berdiam ataupun bekerja dari rumah menghasilkan kreativitas yang luar biasa. Bagi masyarakat Jogja, ada juga yang menyampaikan melalui medsos gambar Sri Sultan yang menyatakan sekarang ini masa Pageblug, wayahe rakyat mataram nyayur Lodeh 7 macam isine Kluwih, Cang Gleyor, Terong, Kulit Mlinjo, Waluh, Godong So karo Tempe. Mugi sedaya tansah widodo nir ing Sambekala.

Dampak dari social distancing tentunya juga berimbas pada sektor pariwisata dimana semua menahan diri tidak bepergian, apalagi menggunakan angkutan publik, termasuk pasar tradisional seperti Beringharjo ikut sepi pengunjung. Sehingga saking sepinya ada video pedagang bermain tik tok di tengah pasar Beringharjo yang kemudian menjadi viral.

Karena himbauan untuk tetap tinggal di rumah, maka kemudahan berbelanja on line di marketplace yang memfasilitasi proses jual beli dari berbagai toko menjadi pilihan. Hampir tiap hari ada saja suara di depan pagar yang meneriakkan paket paket, dengan dalih menjaga jarak bertemu orang dan supaya pengemudi ojol mempunyai penghasilan dari mengirim pesanan yang kita beli.

Jadilah tiap hari bertambah kebiasaan melihat marketplace on line dan membeli apa saja untuk melindungi diri dari virus corona, mulai sabun mandi antiseptik, hand sanitizer, masker, sampai cairan desinfektan dan sarung tangan plastik sampai  penutup kepala plastik atau shower cap.

Saya ikutan membeli masker untuk dibagikan kepada si mbak yang masih ngeyel ke pasar dan tukang sampah yang tiap hari mengambl sampah. Jadi teringat untuk membelikan sarung tangan karet supaya tangannya bersih dari kotoran atau virus.

Selain itu, ada juga yang menyampaikan ide positip dengan memposting gambar tempat minum besar yang diletakkan di depan rumah ditambah sabun supaya orang yang mau masuk rumah atau lewat di depan rumah seperti ojol, tukang sampah, pedagang kaki lima bisa membersihkan tangan dari virus corona.

Namun Teori Bisnis mengatakan bila permintaan tinggi sementara penawaran terbatas maka akan mendorong harga terkerek naik. Akibatnya yang kita saksikan harga hand sanitizer dan sabun mandi desinfektan bahkan cairan desinfektan meningkat fantastis sementara masker yang tadinya 1 dos 75 ribu melambung tinggi menjadi 450 ribu, hingga tak terjangkau oleh rumah sakit, apalagi rakyat kecil.

Begitu mahalnya masker ternyata mendorong kreativitas dunia medsos dengan mengirim berbagai cara membuat masker mulai dari tisu basah yang dilubangi, dari masker bekas yang disetrika, dari kertas yang dilipat seperti masker bahkan ada yang mengirim cara membuat desinfektan dan hand sanitizer. Kiriman melalui medsos tentunya harus disaring dengan teliti karena ada yang benar dan ada yang hoax.

Selain itu, karena orang pada panik membeli Alat Pelindung Diri (APD) akibatnya barang dimaksud menjadi langka dan  dampaknya petugas medis sebagai garda terdepan menangani pasien yang terkena virus corona harus berjuang dengan APD seadanya bahkan konon ada yang menggunakan jas hujan.

Melihat kondisi tersebut berbagai kelompok yang peduli dan bersimpati terhadap para medis tersebut segera menggalang dana dan menyumbangkan Alat Pelindung Diri maupun makanan untuk dibagikan kepada petugas medis di berbagai Rumah Sakit agar dapat bertugas dengan aman.

Mereka  adalah Pahlawan Kemanusiaan yang mempertaruhkan nyawa untuk orang lain yang sedang bertarung melawan virus Corona. Saatnya kita saling jaga dan bantu dengan berdonasi dan berbagi guna mengatasi wabah virus Corona. Dengan semakin meningkatnya jumlah ODP dan PDP, mulailah semua instansi, perusahaan, kantor menerapkan Full Work from Home.

Nah saat menerapkan Full WFH semula saya berpikir  bisa santai bekerja dari rumah, namun karena media bertemu phisik diganti dengan video conference (vicon) maka yang terjadi bertubi tubi undangan vicon dari berbagai pihak berdatangan pada saat yang hampir berdekatan melalui panggilan mobile phone.

Namanya juga mobile atau Hand Phone dan perintah Work From Home sehingga tidak bisa berkilah sedang kena macet dijalan. Kadang cucu juga ikutan disamping saya sehingga terpaksa suaranya ditutup.

Dengan adanya himbauan agar melakukan Physical Distancing, berkaitan dengan Undang Undang Karantina Kesehatan, di beberapa daerah ada yang menerapkan local lock down atau karantina wilayah tidak penuh dimana menjadi daerah tertutup tidak ada orang keluar masuk ke wilayah tersebut.

Bila memaksa masuk maka harus diisolasi selama 14 hari untuk memastikan yang bersangkutan bebas dari Covid 19. Dengan adanya berita atau informasi yang menunjukan peningkatan wabah Covid 19 ataupun gambar swalayan yang habis persedian barangnya membuat masyarakat jadi panik dan over protected.

Dan katanya ketika kita panik, hormon Kortisol atau hormon steroid yang diproduksi kelenjar andrenal bisa memicu stress. Sehingga ada yang menghimbau untuk juga melakukan media social distancing karena medsos justru menimbulkan  kepanikan, waswas sehingga daya tahan tubuh menurun yang mendorong virus masuk tanpa perlawanan.

Nah disini kita diminta untuk bersikap bijak dan dewasa untuk mematuhi himbauan tersebut. Karena wabah virus corona yang awalnya berdampak pada kesehatan akan berimbas pada roda perekonomian.

Mari kita semua menjalin kerjasama yang positif di setiap tindakan demi mendukung upaya pemerintah serta semua pihak untuk mencegah meluasnya virus Corona sehingga mampu menangani pasien yang sudah positif kena maupun yang terindetifikasi dengan TINGGAL DIRUMAH SAJA dan TETAP JAGA KESEHATAN,/DAYA TAHAN TUBUH. Mari Bersama kita Berdoa untuk mewujudkan INDONESIA : KUAT SEHAT BISA BERSATU LAWAN CORONA. Salam sehat kuat dan semangat.(*)

 

About redaksi

Check Also

Campursari & Wayang Virtual: Tetap Gayeng Nonton dari Rumah

Pandemi belum berakhir, tapi berkesenian tidak boleh berhenti. Dan, Sahabat Ngopi bersama komunitas Kulon Progo …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *