Hanya setahunan lebih, sesungguhnya, Indrajit di sekolah tengah sawah itu. Tapi ada bara yang terus menggerus isi hatinya. Tak berkesudahan bahkan hingga
ACI-12: Bambang Indrajit Wijokongko
Dan, inilah Indrajit. Nama panggilan itu saja sudah membuat orang mengernyit. Sebab, tidak pernah ada orang Jawa yang mau memakai nama wangsa
ACI-11: Nyeri Ini Abadi, Entah Sampai Kapan
Tidak. Rasanya tidak ada yang harus disesali. Ia juga tidak perlu merasa kehilangan, karena selama ini memang tidak pernah memilikinya. Hanya sesekali
ACI-10: Matanya Dipaku Guratan di Atas Meja
Tidak ada lagi perih di hati. Indrajit sudah melepas semua kesedihannya. Toh, memang tidak pantas ia meratapi sesuatu yang belum terjadi. Ia
ACI-9: Berhenti jadi Penggender karena Hastari
Semua menjadi biasa saja. Indrajit meresapi hari-hari dengan kembali sewajarnya. Pertemuannya dengan Pak Sum menjadi titik balik keresahan hatinya. Tapi memang, ada
ACI 8: Pathet 6 Diserimpung Mendung
Perjalanan kesedihan Indrajit seperti aliran kali yang tiap siang dan sore ia lewati. Kadang memamerkan momoknya saat banjir dengan air keruh menakutkan.
ACI-7: Sak Ombyok Flamboyan Teronggok di Pojok yang Jorok
Hatinya luruh. Rapuh bukan hanya oleh peluh-lelah, tapi juga karena tercabik kenyataan. Ia masih belum bisa beranjak dari pojok yang jorok di
ACI-6: Sak Ombyok Flamboyan dari Pak Sum
Belum terlalu sore untuk meninggalkan sekolah. Hari ini, Indrajit memiliki gairah yang meledak-ledak. Ia berlarian sejak dari rumah, untuk kemudian menemui Pak
ACI 5: Flamboyan itu Masih Merah
Dengan wajah pias, Indrajin meninggalkan kelas. Tidak ada lagi yang menarik untuk berlama-lama di sekolahnya. Semua berubah tawar. Juga ketika ada yang
ACI 4: Entahlah, Mudah sekali, Dusta Terbuka
Perjalanan waktu terlalu laju berlalu. Tidak ada lagi yang berseri. Hari-hari lewat, begitu saja, ditinggalkan semangat. Sekolah, menjadi sekadar rutinitas yang tidak
- Sebelumnya
- 1
- …
- 5
- 6
- 7
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.




