Home / KANGBARNO / Berkeris dan Membatik Sebagai Laku Batin

Berkeris dan Membatik Sebagai Laku Batin

Hidup itu bertumbuh. Juga membatik. Saya sedang ubreg, kasak-kusuk, muyer-muyer, iseng menorehkan batik jagatan Kebumen. Yang utama membuang kejenuhan, tapi siapa tahu payu, lumayan bisa buat mahari keris.

Ki Sugeng sedang membuat pola untuk batik Jagadatan.

Betul. Keris. keris itu pun tentang laku kehidupan. Bukan tentang benar salah tapi tentang kasunyatan. Kita sudah banyak mengalami kasunyatan yang tidak jarang, datang memberi kejutan. Keris ya seperti itu. Mengejutkan.

Memiliki keris adalah merayakan kejutan-kejutan. Devinisinya bagaimana? Tidak bisa didevinisikan, karena ini, lagi-lagi menyangkut laku kehidupan. Jadi harus dialami sendiri, dilakoni dewek, dimaknai sendiri.

Batik Sekar Jagat atau biasa disebut Jagatan Kebumen yang menjadi busana tradisional Kebumen.

Seperti juga spiritualitas Jawa, ia tentang laku dan kenyataan hidup. Percaya ataupun tidak dipercaya, diimani ataupun tidak diimani, diyakini ataupun tidak yakin, ia sebagaimana sang bagaskara, matahari senyatanyalah matahari yang tetap demikian adanya: bersinar bagi kehidupan.

Meski dihujat, diludahi jutaan manusia, monggo mawon. Jika ini disebut pamer atau riya, biarlah. Pameran keris menjadi pagelaran dan pertunjukan yang nyatanya tetap memiliki  amal kebaikan.

Tapi percayalah, apabila yang saya lakukan adalah pamer, biarlah angus, seperti api memakan kayu bakar. rahayu sagung dumadi.(ki sugeng winarto)

About redaksi

Check Also

Enjang Meniko, Ajungan Jogja TMII Siap Menyambut Perantau Kulon Progo

Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pagi ini sudah siap menyambut para …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *