Home / DWIDJO / Api Cinta (29): Meringis, Sikile Paidi Keruji

Api Cinta (29): Meringis, Sikile Paidi Keruji

Berbeda dengan mikul membawa dua beban kiri dan kanan menggandalkan kekuatan pundak sebagai penyangga beban. Sekali mikul harus membawa beban dua pocong sehingga seimbang baik berat maupun ukurannya. Nyunggi dan mikul sama-sama membawa beban berat.

Membawa beban berjalan di tengah galengan membutuhkan kehati-hatian ekstra. Lengah sedikit saja akan terpelanting. Jatuh terjerembab di sawah dan beban berhamburan. Untuk bangkit dari sawah berlumpur, juga membutuhkan tenaga sangat ekstra. Paidi jatuh bangun untuk menghabiskan sisa perjalanan galengan untuk mencapai batas desa sebelum sampai rumah.

“Ayo melo ke pasar,” Pakwo memecahkan keheningan sore menjelang waktu tidur di beranda depan. Ke pasar membeli keperluan sawah dan ladang. Sabit yang tajam, parang yang panjang dan cangkul yang mantap diperlukan untuk menggarap sawah dan ladang. Musim panen kali ini banyak menyisakan hasil sehingga banyak peralatan yang dapat dibeli. Selain untuk persediaan barang-barang yang diperlukan, juga untuk mengganti peralatan yang mulai tumpul.

Paidi sudah bersiap-siap mengikuti sang kakek ke pasar. Banyak hal yang dapat disaksikan di pasar besar. Selain perjalanan yang lumayan jauh, membonceng sepeda di bangku belakang menjadi kegembiraan tersendiri. Apa lagi bakal banyak yang dibeli, tentu jajan pasar tidak ketinggalan. Kupat tahu, makanan khas yang menjanjikan selera. Apalagi sambal merah yang mendatangkan selera makan tersendiri.

Paidi bersorak dalam hati. Keramaian yang menyenangkan suasana akan didapatkan di pasar. Sekembalinya dari pasar akan banyak cerita yang dapat dibagikan kepada teman-teman sebaya. Belum lagi oleh-oleh yang dapat menjadi kebersamaan dengan teman sepermainannya.

Tanpa disadari, Paidi begitu asyik masyuk menikmati pemandangan. Kiri kanan jalan tampak rumah, toko dan warung menawarkan berbagai dagangan yang dibutuhkan masyarakat. Di kesempatan lain pemandangan lepas, sawah yang mulai menguning menjanjikan siapa saja yang memandangnya. Tidak luput dari perhatian Paidi, anak-anak seusianya yang bergerombol berjalan kaki. Mereka tampak bebas, tanpa beban dan dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan.

“Kraaak,…” tiba-tiba sepeda yang ditumpang Paidi dan Pakwo berhenti mendadak. Kaki Paidi seperti terkelupas, mulai perih-perih dan menjadi berdarah. Paidi tersadar dari kantuknya. Kaki kiri Paidi ternyata tersangkut di jari-jari roda sepeda sehingga mengganjal laju sepeda, bahkan sampai menghentikan sama sekali.

Paidi hanya dapat meringis, menyerengai menahan rasa sakit dan perih di kakinya. Sementara Pakwo hanya dapat menahan marah. Siapa yang bakal disalahkan, dirinya atau Paidi atau bahkan sepedanya. Kenapa kaki saja masuk ke jari-jari roda sepeda sehingga mendatangkan kesakitan.

Pakwo terus melaju dengan sepedanya. Seperti tidak memperhatikan keadaan Paidi yang meringis, menangis sesenggukan. Paidi tidak dapat protes. Selain karena takut, juga situasinya tidak tepat. Akibat dari kesalahannya, Paidi menyadari protes hanya akan mendatangkan kemarahan Pakwo. Banyak pengalaman mengantarkan pemahaman tersebut. Sama halnya dengan yang dilakukan Paiman, paman Paidi yang mendapat hukuman menyelesaikan seluruh pekerjaan di rumah.(bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *