Home / KANGBARNO / Patrem, Keris Mungil yang Eksotik Milik Para Putri

Patrem, Keris Mungil yang Eksotik Milik Para Putri

Keris, selama ini identik dengan kaum pria. Sebuah ungkapan klasik menyebut, seorang laki-laki Jawa akan lengkap jika salah satunya memiliki curigo atau keris pusaka. Tapi apakah seorang perempuan tabu memiliki keris?

Pertanyaan umum itu terjawab di Grup WA Paguyuban Brajabumi. Sebab, sejarah menulis bahwa sejak jaman kerajaan-kerajaan besar di Jawa, para putri  bangsawan selalu memiliki keris.

“Walau secara ukuran lebih kecil dari keris pria. Dipakai diselipkan di benting sebelah depan. Dengan hiasan warangkanya yang sangat indah penuh dengan intan berlian. Keris khusus untuk putri ini, biasa disebut Patrem,” jelas Ki Setyo Budi, Ketua Umum Paguyuban Brajabumi yang menghimpun pecinta keris dan tosan aji.

Di era sekarang, tambahnya, tidak sedikit putri yang mengkoleksi keris. Malah, data seorang empu keris, harga keris untuk putri juga tidak murah. Dengan berbagai hiasan yang menawan, keris patrem bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Sependek apa yang saya ketahui, patrem adalah sejenis keris kecil. Untuk ukurannya sejengkal atau lebih, antara 15 cm sampai 25 cm atau lebih. Bahkan ada yang berpendapat jika keris kurang dari 30 cm masuk ke dalam patrem. Jarenya jika ada 4 atau beberapa keris yang diputrani saatu diantaranya ada jenis patrem,” kata Ki Sugeng yang punya julukan Kidung Pamungkas.

Menurut Mas Ressy, untuk sandangan tentu menyesuaikan jenis kerisnya. Patrem adalah versi kecil dari keris-keris  pada umumnya. Nama dapur untuk keris patrem pun sama dengan keris-keris pada umumnya. Ada patrem brojol, sempaner, jalak, kebo, mahesa, pulanggeni dan lainnya.

“Sandangan sepanjang yang saya pahami, sama dengan keris pada umumnya. Bisa gayaman atau ladrang. Atau sandang walikat. Tapi lebih umum bentuk gayaman atau walikat atau prahunan ataupun  daunan madura,” jelasnya.

Memang, dalam dunia pakerisan, ada beberapa pengolongan yang dikenal secara luas. Golongan yang memiliki panjang 1-15 cm itu disebut Jimatan ( walaupun berbentuk putran dari sebuah keris / tombak ). Lalu, 15 – 25 cm disebut patrem / cundrik ( walaupun berbentuk putran dari sebuah keris / tombak ).  Jika panjang 25 cm – 39 cm baru disebut keris sesuai pakemnya. Sedang yang panjang 40 cm ke atas disebut corok

Diskusi Paguyuban Brajabumi semakin menarik dengan kehadiran Bopo Bambang Gunawan yang dikenal sebagai tokoh keris Nusantara. “Alhamdulillah,  nampaknya WA grup Paguyuban Brajabumi makin regeng. Juga menggembirakan pagi ini sudah ada anggota putri. Diskusi juga membuka kesadaran bahwa dunia keris itu bukanlah  monopoli  kaum pria,” ungkapnya.

Menurut Bopo Bambang, bobot orientasi kaum putri terhadap keris berbeda dengan para pria. Mungkin para putri lebih berorientasi pada bidang esoterisnya. “Saya pikir ini sah-sah saja sesuai kodrat yg mempengaruhi selera masing-masing. Mengenai patrem, banyak dibahas di buku-buku tentang keris. Kami dari Brojobuwono juga sedang berusaha mengembangkan agar keris dapat diterima dikalangan para putri,” pungkas Bopo Bambang Gunawan.(kib)

About redaksi

Check Also

Wargi 5 Pedukuhan Nyadran Wonten Ing Kramatan Kauman

Selepas siang, masyarakat Jombokan, Kopok Kidul, Bujidan, Soronanggan, dan Siluwok berkumpul di kramatan Kauman. Warga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *