Kantun gangsal dinten malih. Poro sutresno ringgit wacucal, bade kepanggih dalang misyuwur, Ki Seno Nugroho. Mangke, Rabo Pon utawi malem Kemis Wage, wuku Tolu tanggal 8 Syawal 1440 Hijriah (12 Juni 2019 Masehi) wayangan bade dipun gelar wonten Lapangan Nganjir, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo.
Parto Kromo, lakon tua yang berkisah tentang perjalanan cinta Raden Arjuna dengan Dewi Woro Sembadra, akan ditampilkan dengan penuh gusto. Ini merupakan lakon romantis yang penuh haru karena cinta, meskipun sudah ditakdirkan bertemu, tetap butuh diperjuangkan.
Wayangan yang akan digelar mulai pukul 19.00 WIB itu, merupakan rangkaian dari Syawalan Warga Nganjir sekaligus dua acara lain: Syukuran cetak ulang buku Nami Kulo Sumarjono serta Reuni SMAN 1 Wates Angkatan 87 dan SMPN 2 Wates Angkatan 84.
Buku Nami Kulo Sumarjono merupakan biografi kecil perjalanan hidup Sumarjono, pria kelahiran Dusun Nganjir yang sukses merubah hidup dari serba kekurangan menjadi tokoh nasional. Saat ini, Sumarjono atau di Nganjir populer dengan sapaan Om Jono, adalah Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan.
Buku setebal 350an halaman yang ditulis oleh cah Jombokan (Tawangsari, Pengasih) itu, mengungkap sisi-sisi yang tak banyak diketahui tentang Sumarjono. Mulai dari perjuangannya menakhlukan alam Nganjir, hingga kisah cintanya yang penuh drama. Dalam buku ini, juga diceritakan pitutur-pitutur Mbok Tadjuk dan Pak Karso, orangtuanya yang membuatnya mampu memetik keberhasilan hidup.
Sebelum kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) Sumarjono adalah alumni SMP Negeri 2 Wates yang berada di Pengasih (84). Lalu, masuk SMA Negeri 1 Wates dan lulus tahun 1987. “Ya ini reuni kecil-kecilan sambil nonton wayang. Kebetulan menurut Pak Dukuh Nganjir, Ki Seno Nugroho baru pertama kalinya mayang di Nganjir,” ungkap Om Jono.(kib)









