Masyarakat DIY Tak Boleh Lengah Hadapi Malaria

oleh -1565 Dilihat

Yogyakarta (KABARNO.com) : Eliminasi malaria di DIY diharapkan benar-benar dapat tercapai pada tahun 2025.

Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektoral yang serius untuk mewujudkan eliminasi malaria.

“DIY memiliki tantangan khusus sebagai daerah wisata, pendidikan, serta pusat pertukaran antar wilayah dan negara yang berpotensi menimbulkan kasus impor malaria,” kata KGPAA Paku Alam X, Wakil Gubernur DIY pada pertemuan dengan Tim Asesmen Eliminasi Malaria 2025 di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan Yogyakarta Selasa (12/8/2025).

Paku Alam juga menekankan pentingnya pemanfaatan kearifan lokal serta kerjasama dengan perguruan tinggi untuk mendukung keberhasilan program ini.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg Pembajun Setyaning Astutie menyebut sesuai arahan Wakil Gubernur, memegang prinsip 5K yaitu Kraton, Kaprajan/Kantor, Kampung / Komunitas, Kampus dan Korporasi yang menjadi bagian dari konsep kebudayaan di DIY sebagai landasan kerja bersama lintas sektor.

Dukungan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), institusi pendidikan, hingga tingkat kelurahan dan puskesmas sangat krusial dalam menjaga keberhasilan eliminasi.

“Masyarakat DIY tidak boleh lengah menghadapi malaria, penyakit yang sudah ada sejak tahun 1937. Upaya pengendalian penyakit malaria harus terus berlanjut agar anak cucu kita tidak mewarisi malaria sebagai penyakit purbakala,” tandasnya.

Ketua Komisi Penilaian Eliminasi Malaria Nasional, Dr. dr. Ferdinan J. Laihad  memyampaikan bahwa kasus malaria sempat meningkat sangat tinggi pada tahun 2000 akibat krisis ekonomi 1998. Selanjutnya, kasus menurun kembali hingga mencapai tahap eliminasi saat ini.

“Walaupun sudah memasuki eliminasi, kita tidak boleh lengah karena malaria bisa kembali jika tidak waspada,” tegasnya.

Menurut Ferdinan, kerjasama lintas sektor dan peran masyarakat sangat penting. Terutama di daerah wisata seperti DIY yang banyak kedatangan wisatawan dari luar yang berpotensi membawa parasit malaria.

“Jika parasit terbawa masuk, nyamuk yang ada bisa menjadi vektor penularan baru. Maka, kita harus menjaga eliminasi ini dengan pengawasan migrasi yang ketat dan partisipasi aktif masyarakat,” tambahnya.

Perwakilan WHO Indonesia, Dr. Herdiana Hasan Basri menyebut perjuangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam eliminasi malaria, merupakan tonggak sejarah penting bagi Indonesia. DIY sudah memulai sejak tahun 1959 ketika Soekarno mencanangkan penyemprotan di Kalasan yang kemudian menjadi hari kesehatan nasional.

“Kewaspadaan tidak boleh kendur. Jika lengah sedikit saja, kasus malaria bisa meledak kembali dan penanganannya jauh lebih sulit daripada menjaga kondisi yang sudah ada,” pesannya. (Wur)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.