Ketika Hutan Menangis, Akibat ulah Penguasa Dholim dan Manusia Rakus di Bumi Nusantara.

oleh -1025 Dilihat
Oplus_131072

Oleh : Dr AM. Jumai

Hutan-hutan di Sumatera dahulu dikenal sebagai salah satu wilayah paling kaya dan megah di Nusantara. Pepohonan menjulang tinggi, udara segar mengalir tanpa batas, dan ribuan spesies hidup berdampingan dalam keselarasan yang diciptakan oleh Allah. Namun seiring berjalannya waktu, keindahan itu perlahan memudar.

Apa yang tampak sekarang adalah bekas luka yang ditinggalkan oleh kerakusan manusia—hutan yang gundul, tanah yang longsor, sungai yang keruh, dan udara yang dipenuhi asap. Kerusakan ini bukan terjadi begitu saja; ia lahir dari tangan-tangan manusia yang merusak, menebang, mengeksploitasi, dan memperjualbelikan alam tanpa mempertimbangkan akibat jangka panjangnya.

Pembalakan liar atau illegal logging menjadi salah satu penyebab utama hancurnya ekosistem Sumatera. Aktivitas ini dilakukan secara sengaja dan terorganisir, melibatkan berbagai pihak yang mencari keuntungan instan. Tidak hanya masyarakat setempat atau oknum tertentu, tetapi juga pihak asing yang masuk melalui jalur legal maupun ilegal untuk menghisap kekayaan alam Indonesia.

Mereka memanfaatkan celah hukum, lemahnya pengawasan, dan kerentanan integritas sebagian aparat untuk membawa kabur kayu-kayu berharga yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan bangsa. Kolaborasi gelap ini menjadi penyebab utama deforestasi besar-besaran yang begitu cepat dan tak terkendali.

Kerusakan yang ditimbulkan pun sangat luas. Hilangnya pepohonan membuat tanah tidak lagi mampu menahan air, sehingga banjir bandang semakin sering menerjang pemukiman penduduk. Longsor terjadi di banyak tempat, menghancurkan rumah, menewaskan warga, dan merusak infrastruktur.

Sungai-sungai yang dulu jernih kini tercemar lumpur akibat erosi. Kebakaran hutan menjadi masalah tahunan, menciptakan kabut asap yang menyesakkan dada sampai ke negara tetangga. Semua ini adalah akibat langsung dari eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab.

Al-Qur’an telah lama mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi terjadi karena ulah manusia sendiri. Dalam QS. Ar-Rum ayat 41, Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” Ayat ini menjadi bukti bahwa bencana ekologis bukan sekadar fenomena fisik, melainkan teguran moral bagi manusia agar berhenti bersikap sombong dan serakah. Ketika manusia melanggar batas, alam akan memberinya peringatan.

Kerusakan Fisik Masyarakat Adat Sumatera Menjadi Korban 

Tidak hanya kerusakan fisik, masyarakat adat Sumatera juga menjadi korban. Hutan yang merupakan tanah leluhur mereka dirampas, dialihfungsikan, dan dijarah tanpa belas kasihan. Mereka kehilangan tempat tinggal, kehilangan sumber makanan, kehilangan budaya, bahkan kehilangan identitas. Generasi muda mereka tumbuh tanpa melihat lagi kehijauan hutan yang seharusnya menjadi kebanggaan. Kerusakan ini bukan hanya masalah ekologi, tetapi juga masalah kemanusiaan dan peradaban.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka generasi mendatang tidak lagi mewarisi alam yang sehat. Mereka hanya akan menerima dampak burukmanusia bencana, kemiskinan ekologis, dan warisan kehancuran. Kita sebagai manusia yang diberi akal dan amanah oleh Allah seharusnya mampu menjaga bumi, bukan merusaknya. Eksploitasi alam secara berlebihan mencerminkan hilangnya nilai moral, ketidakpedulian terhadap kehidupan, serta jauhnya manusia dari ajaran agama.

Kesimpulannya, pembalakan liar, eksploitasi alam yang masif, serta keterlibatan pihak asing dalam pengurasan sumber daya Sumatera telah menyebabkan kerusakan ekologis yang sangat serius. Banjir, longsor, kabut asap, punahnya satwa, hancurnya kehidupan masyarakat adat, dan rusaknya keseimbangan alam merupakan bukti nyata bahwa kerakusan manusia membawa dampak mengerikan. Semua ini adalah cermin bagaimana manusia telah melampaui batas.

Nasihatnya, marilah kita kembali kepada nilai agama dan kesadaran ekologis. Alam adalah amanah yang harus dijaga. Hentikan pembiaran terhadap pembalakan liar, tegakkan hukum secara adil, dan kuatkan pengawasan terhadap keterlibatan asing.

Jadilah bagian dari solusi: menanam pohon, mendukung kebijakan hijau, serta mendidik generasi baru agar mencintai dan merawat lingkungan. Jika manusia kembali menjaga alam, maka alam pun akan kembali memberikan berkahnya. Hentikan kerakusan sebelum terlambat, karena bumi tidak akan menunggu hingga manusia tersadar. Bumi hanya akan memberikan balasan sesuai perbuatan manusia.(*)

Dr AM Jumai adalah Dosen FEB Unimus Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.