Home / KANGBARNO / Peringatan Pitungndinane Pak Suka Hardjana

Peringatan Pitungndinane Pak Suka Hardjana

Hari ini, adalah pitungndinane meninggalnya komponis senior Indonesia, Suka Hardjana. Pria kelahiran Wonosari Gunung Kidul itu, meninggal Sabtu lalu, 7 April 2018.

Hari itu, hari Sabtu, 7 April saya sedang berada di sebuah tempat yang jauh dari pusat informasi. Susah sinyal, seperti terisolir dari dunia luar yang selama ini mudah terjangkau lewat internet dan ponsel.

Tapi hari-hari sebelum 8 April, di rumah, tiba-tiba saja, saya bertemu kliping tua. Angka tahunnya 1995. Saya sempatkan membaca sebentar tulisan saya saat wawancara dengan Suka Hardjana. Entah karena kangen dengan suasana masa lampau, atau pertanda apa, kliping itu saya foto lalu saya bawa ke meja kerja.

Saat saya pulang lagi ke keramaian setelah meninggalkan tempat yang jauh dari dunia luar, datang beruntun berita duka. Yang pertama soal kecelakaan Mas Danarto yang kemudian meninggal pada 10 April 2018. Sibuk mengikuti perkembangan berita itu, saya baru ngeh, ternyata tiga hari sebelum Mas Kecuk wafat, sahabatnya sesama seniman top, sudah mendahului: Suka Hardjana, satu-satunya kritikus musik paling disegani.

Saya tertegun. Tidak menyangka, penemuan kliping tua tentang Pak Suka, serasa pertanda. Barangkali begitu. Setidaknya, saya merasa diberi pertanda untuk mengingatnya, karena seniman peng-pengan ini, hendak menghadap Tuhan. Jadi, meski agak terlambat mendengar kabar sedonya Pak Suko, saya sudah mengingatnya lewat kliping berusia 23 tahun itu.

Perkenalan saya dengan Pak Suka, mirip-mirip dengan pertemuan saya dengan Mas Danarto. Tentu saja, lewat aktivitas liputan yang berubah menjadi hubungan personal dengan para seniman ternama itu.

Seperti umumnya seniman, meski memiliki reputasi dunia, Pak Suka adalah sosok bersahaja. Ramah kepada siapa saja. Juga para wartawan muda yang pengetahuan musiknya, sangat terbatas.

Meninggal pada Sabtu, 7 April 2018, usia pria kelahiran Wonosari 17 Agustus 1940, belum genap benar di angka 77 tahun. Dari RS PGI Cikini, Pak Suka kemudian dibawa ke Solo dan dimakamkan di Makam Triyangan, Minggu, 8 April.

Putra pasangan HS Muntjar dan Marchamah, dikenal sebagai praktisi musik dan kritikus musik paling disegani. Itu, terutama karena latar pendidikan musiknya yang dijalani dengan penuh bakat di tempat-tempat hebat.

Pada 1962, Pak Suka menempuh pendidikan di Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta. Lalu, terbang ke Jerman, masuk  Akademi Musik Detmold, Jerman Barat. Selanjutnya, Bowling Green State University serta Art Management FEDAPT Amerika.

Melahirkan event musik paling bergengsi bernama Pekan Komponis Muda, Pak Suka (dibaca Suko) pernah menjadi Kepala Seksi Musik Urusan Kesenian Jawatan Kebudayaan PPK (1962-1964). Setelah itu, menjadi pengajar di Konservatorium Musik, Bremen, Jerman (1969-1971).

Dari 1980-1984, Pak Suka dipercaya sebagai Pembantu Rektor II Institut Kesenian Jakarta. Sementara di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, anak kelima ini menjadi pengajar pascasarjana. Sekretaris II Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta dijabat pada 1982-1985.  (kib)

About redaksi

Check Also

Swargi Langgeng Kagem Almarhum Haji Wasis Djuhar

Belum habis rasa kehilangan atas meninggalnya Raden Nganten Sukemi, yang merupakan tokoh perantau Kulon Progo …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *