Semarang,KABARNO.Com– Suasana khidmat menyelimuti Rumah Dinas Wali Kota Semarang di Jalan Abdulrachman Saleh, Sabtu (14/2/2026) siang. Para kiai, tokoh masyarakat, aktivis organisasi Islam, dan undangan dari berbagai latar belakang duduk berdampingan dalam satu ruang, menandai sebuah peristiwa penting: pengukuhan pengurus Forum Kiai Santri Pancasila (FKSP) periode 2026–2031.
Pengukuhan dilakukan oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Bambang Pramusinto, yang hadir mewakili Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Prosesi berlangsung sederhana namun sarat makna kebangsaan, ditandai dengan pembacaan keputusan pengurus serta penyerahan simbolis amanah organisasi kepada jajaran kepengurusan baru.
Dalam sambutan tertulis wali kota yang dibacakan Bambang Pramusinto, Agustina menyampaikan, apresiasi atas berdirinya FKSP sebagai wadah komunikasi lintas organisasi kemasyarakatan Islam di Kota Semarang. Menurutnya, kehadiran forum ini merupakan ikhtiar bersama untuk merawat persatuan sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah dalam bingkai Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Forum ini lahir dari semangat menjaga kebersamaan. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi dirawat sebagai kekuatan bersama,” demikian kutipan sambutan wali kota.
Agustina menegaskan, bahwa Semarang merupakan kota yang heterogen, dihuni masyarakat dengan latar belakang suku, agama, budaya, dan organisasi yang beragam. Namun di tengah kemajemukan tersebut, Semarang tetap dikenal sebagai kota yang harmonis, multikultural, serta menjunjung tinggi kerukunan sosial.
Ia mengingatkan, bahwa tradisi hidup berdampingan secara damai telah lama menjadi identitas warga kota. Ketika Idulfitri berlangsung, masyarakat lintas agama turut menjaga suasana kondusif. Saat perayaan Imlek digelar, warga Muslim ikut menghormati dan menjaga ketertiban lingkungan.
Demikian pula ketika Natal tiba, seluruh elemen masyarakat bekerja sama memastikan keamanan dan kenyamanan bersama. “Inilah wajah Semarang: berbeda-beda tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni kedamaian dan kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Sebagai Simpul Komunikasi Antar Umat
Menurut Agustina, pada titik inilah FKSP memiliki posisi strategis sebagai simpul komunikasi antarumat dan antarorganisasi Islam. Dengan latar belakang anggota yang berasal dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, LDII, ICMI, MTA, serta berbagai unsur lainnya, forum ini menjadi bukti bahwa keberagaman bukan penghalang untuk bersatu.
“Jadikan ukhuwah Islamiyah sebagai landasan utama setiap langkah. Jika persaudaraan kokoh, maka kota ini akan semakin damai dan nyaman bagi seluruh warganya,” pesannya.
Lebih jauh, wali kota menekankan pentingnya FKSP sebagai pusat komunikasi sosial di tengah derasnya arus informasi digital. Ia mengingatkan bahwa kecepatan informasi di era media sosial sering kali tidak diiringi dengan kebenaran.
Karena itu, FKSP diharapkan mampu menjadi jembatan klarifikasi, ruang tabayyun, sekaligus penenang ketika muncul isu-isu yang berpotensi memecah belah masyarakat.
” Forum ini diharapkan tidak hanya hadir sebagai organisasi seremonial, tetapi aktif membangun dialog, menyerap aspirasi umat, serta mencegah kesalahpahaman di tingkat akar rumput,” ujarnya.
Dalam pengukuhan tersebut, Achmad Robani Albar resmi dipercaya sebagai Ketua FKSP dengan Agus Haryadi sebagai sekretaris. Struktur kepemimpinan juga diperkuat oleh Ketua Dewan Syuro Sun Djok San, Ketua Dewan Penasihat Mohammad Ali Shodiqin, Ketua Dewan Pengawas Indriyanto, serta Ketua Dewan Pembina A.M. Jumai.
Sejumlah tokoh turut dikukuhkan sebagai pengurus, di antaranya Joko Wahyudi, Singgih Tri Sulistiyono, Taslim Syahlan, Sumanto, Ulin Nuha, Suswanto Widodo, Gunoto Saparie, Bambang Wuragil, Joko Hartono, Rahmat Dakwah, Nur Asik, Maulana Sanusi, Sholihul Hadi, Mohammad Agung Ridlo, Arnaz Agung Andrarasmara, Achmad Sofyan, Achmad Subchan Darussalam, Gus Achmad Ghojali, Gus Zen, Adnan Ghiffari, Muhammad Ichwan DS, Mauidhotul Hasanah, Siti Juhanah, Agus Triyono MC, Inung Nurhayati, dan lainnya.
Dikukuhkan Garda Kisapa
Bersamaan dengan itu, dikukuhkan pula kepengurusan Garda Kisapa (Kiai Santri Pancasila) sebagai sayap penggerak lapangan organisasi. Misransyah dipercaya sebagai ketua, didampingi Nur Faiz sebagai sekretaris dan Joko Prom sebagai bendahara.
Salah satu momen yang memberi warna tersendiri dalam acara tersebut adalah pembacaan puisi oleh Ketua Dewan Syuro FKSP, Sun Djok San. Puisi berjudul “Forum Kiai Santri Pancasila” dibacakan dengan penuh penghayatan di hadapan para hadirin.
Dalam bait-bait puisinya, FKSP digambarkan sebagai “warung sosial” yang menjual menu-menu ideal, sebuah metafora ruang perjumpaan tempat orang-orang berdiskusi, bergotong royong, dan merawat kebersamaan. Forum itu disebut sebagai tempat nongkrong pemikiran, menjaga persatuan, kesatuan, dan keamanan, diselingi Kalam Ilahi yang menguatkan batin.
Pembacaan puisi tersebut disambut tepuk tangan panjang, menghadirkan suasana reflektif di tengah acara resmi organisasi.
Sun Djok San menambahkan, pengukuhan FKSP bukan sekadar pelantikan struktural, melainkan penegasan komitmen moral bahwa para kiai dan santri memiliki peran penting dalam menjaga ruang sosial tetap teduh.
” Di tengah dinamika politik, perbedaan pandangan keagamaan, serta derasnya informasi digital, forum ini diharapkan menjadi jangkar kebijaksanaan sosial.”
Acara ditutup dengan doa bersama, menandai harapan agar FKSP mampu menjadi perekat masyarakat sekaligus mitra strategis pemerintah dalam menjaga harmoni Kota Semarang.
Siang itu, Rumah Dinas Wali Kota tidak hanya menjadi tempat pengukuhan organisasi, tetapi juga ruang pertemuan nilai-nilai: agama, kebangsaan, dan kemanusiaan, yang dirajut dalam satu semangat bersama, Semarang yang rukun dan berkeadaban.(sup*)








