Oleh : Sudadi
Dalam suasana yang tenang ini, kita menapaki kembali kisah para nabi- bukan sekadar untuk mengetahui sejarahnya, tetapi untuk memaknai kisah yang ada di dalamnya.
Setiap nabi membawa satu jejak.
Jejak sabar.
Jejak taat.
Jejak keberanian.
Jejak Mengaku Kesalahan.
Serial ini bukan untuk menggurui, tetapi untuk menemani perjalanan hati selama Ramadan.
Mari kita mulai mengenal dari manusia pertama:
NABI ADAM: Tentang Batas Larangan dan Tobat (1)
Saudara-saudaraku,
Kisah manusia dimulai dari kisah Adam. Allah menciptakannya, memuliakannya, dan menempatkannya di surga.
Segala kenikmatan boleh dinikmati. Hanya satu larangan: jangan mendekati satu pohon.
Al-Qur’an tidak menyebut pohon apa. Karena yang penting bukan jenisnya, tetapi batasnya.
Di situlah ujian pertama manusia terjadi.
Godaan datang dengan janji yang indah. Adam pun tergelincir.
Namun kisah ini bukan berhenti pada pelanggaran. Justru pelajaran besarnya ada setelah itu. Adam tidak membantah. Tidak menyalahkan siapa pun.
Ia mengakui kesalahan dan memohon ampun kepada Allah.
Di situlah kemuliaan manusia dimulai.
Manusia memang bisa salah. Itu bagian dari fitrah. Tetapi manusia juga diberi akal, diberi hati, dan diberi kesempatan untuk bertobat.
Ramadan mengingatkan kita pada peristiwa itu. Kita menahan diri karena sadar kita punya batas.
Kita beristighfar karena sadar kita pernah melewati batas. Kita memperbaiki diri karena tidak ingin terus jatuh pada kesalahan yang sama.
Dari Nabi Adam kita belajar satu hal yang sederhana dan tegas:
Jatuh bukan akhir perjalanan. Yang berbahaya adalah tidak mau bertobat dan memperbaiki diri.
Selama kita mau bertobat kepada Allah, pintu ampunan tidak pernah tertutup.
Semoga Ramadan ini menjadikan kita pribadi yang lebih sadar batas, lebih cepat bertobat, dan lebih sungguh-sungguh memperbaiki diri. (Dad)








