Home / DWIDJO / Api Cinta (32): Ke Pasar, Membuat Mbokwo Lupa Kelakuan Pakwo

Api Cinta (32): Ke Pasar, Membuat Mbokwo Lupa Kelakuan Pakwo

Menghadapi dinding batu masih lebih mudah. Dibandingkan dengan menghadapi hati yang sudah membatu. Hati yang membatu tidak akan dapat diubah dalam waktu sekejab. Lebih sering hati yang membatu akan melekat dan dibawa hingga ke liang lahat. Mbokwo tidak hendak membuang-buang waktu. Lebih banyak mengurus masalah yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan urusan elementer yang menguras tenaga. 

Selain menghabiskan waktu dan memforsir pikiran. Masalah elementer hanya akan mendatangkan pikiran sempit. “Makan hati dan pikiran,” Mbokwo selalu menyandarkan masalahnya kepada kepentingan yang lebih luas. Meski hal itu mengorbankan diri dan harapannya. Sebagai sosok pejuang keluarga Mbokwo lebih memilih menjadi lilin-lilin kecil. Meski harus terbakar, meleleh dan lebur namun sudah memberikan penerangan kepada lingkungan.

Mbokwo memahami benar. Hanya akan menghadapi tembok tinggi. Berdiskusi dengan Pakwo tidak akan pernah membuahkan hasil. Hanya marah dan marah. Bertahun-tahun Mbokwo lebih banyak menyelesaikan permasalahannya sendiri. Kalaupun mengadu satu-satunya kepada Tuhan. Harapannya hanya satu, mudah-mudahan Tuhan memberikan jalan terbaik untuk mengarungi kehidupan di masa yang akan datang.

Bekerja dan bekerja. Di sawah, di ladang. Kalau di rumah, kesibukannya mengurus dapur. Menyelesaikan berbagai permasalahan di rumah tangganya. Hanya sesekali ke pasar. Itupun untuk menyelesaikan sendiri urusan dapur. Menjual hasil bumi, membelanjakan bagi keperluan sehari-hari. Ke pasar merupakan urusan rutin yang sedikit menyenangkan. Melupakan sejenak permasalahan yang dihadapi dalam rumah tangganya.

Meski tidak dapat menghapuskan seluruh duka lara. Sedikitnya dapat mengalihkan kepenatan. Mengurangi sedikit beban yang harus ditanggung. Untuk kemudian menghadapi masalah-masalah rutin. Masalah keseharian yang membelenggu kebebasannya.

Mbokwo menyadari benar kedudukannya sebagai perempuan. Meski memiliki pengaruh luas. Kekerabatan yang kuat namun pertimbangannya satu. Anak-anak lebih penting dari diri dan perjalanannya. Masa depan anak-anak jauh lebih penting dibandingan dengan nasib dirinya. Anak-anak memiliki masa depan yang jauh lebih penting. Sukses anak-anak, berarti suksesnya juga.

“Enyong wis tuwo,”

“Enyong wis juweh,”

“Enyong wis wareg,”

Demikian Mbokwo selalu menyampaikan kepada anak-anaknya. Ketika menghadapi masa sulit. Ketika menghadapi tembok tinggi. Ketika hati dan perasaannya buntu. Tidak menemukan jalan keluar atas berbagai persoalan yang dihadapi. Sesekali Mbokwo menangis untuk menuntaskan persoalan hidup. hanya sesekali saja meneteskan air mata. Selebihnya mengadukan permasalahan yang dihadapi kepada diri dan masa depannya. (bersambung)

About redaksi

Check Also

KPDJ Membesar di tengah Perantau Kulon Progo

Bagi masyarakat Kulon Progo, eksistensi KPDJ sudah diakui. Tidak hanya di tengah masyarakat perantau, tapi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *