Home / DWIDJO / Api Cinta (30): Pakwo yang selalu Kalah sama Perempuan

Api Cinta (30): Pakwo yang selalu Kalah sama Perempuan

Sesampai di rumah Paidi juga tidak banyak pertanyaan. Juga tidak banyak mengeluh. Meski tertatih-tatih namun harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah. Begitu Pakwo selalu memberikan pengajaran kepada anak, cucu dan cicitnya. Setiap kesalahan harus dipertanggungjawabkan. Tidak ada toleransi. Semua harus dapat dilakukan sendiri, termasuk tanggung jawab atas kesalahan yang terjadi.

Beruntung lukanya tidak terlalu dalam. Hanya kulit kakinya saja yang terkelupas. Dalam beberapa hari saja kaki Paidi segera sembuh seperti sedia kala. Terasa nyeri memang. Setiap kali terkena percikan air, Paidi meringis kesakitan. Perih dan pedih, namun Paidi masih menyisakan semangat untuk tidak mengaduh di depan Pakwo yang terkenal tegas, keras dan disiplin.

Pakwo tergolong ketat dalam setiap kebijakan. Keras, tegas namun kadang terkesan kaku. Hal itu tampak dari suaranya yang menggelegar. Terlebih ketika tertawa, terkekeh. Ditambah gigi emas yang menghias di lisannya. Lengkaplah penampilan sang kakek. Meski usianya tidak tergolong muda lagi, namun selalu necis. Kakek selalu menjaga penampilan. Di hadapan orang-orang yang ditemui selalu menampakkan kewibawaan.

Kesan kaku, kasar dan tegas langsung sirna. Ketika berhadapan dengan perempuan. Sang kakek selalu tampil manis. Senyum mengembang selalu menghiasi.  Tutur katanya teratur, terjaga dan menampakkan sikap sebagai manusia beradab. Berbudi luhur dan menjunjung sopan santun yang tinggi. Sering menggunakan bahasa halus dan tata karma tinggi. Layaknya para sentono dan punggowo kraton yang bercengkerama memperbincangkan berbagai tatanan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Tampak perbedaan itu ketika Pakwo berhadapan dengan Mbokwo dan Mboknom. Sikapnya diametral, ketika di rumah Mbokwo sering kali Pakwo menampakkan sikap tegas, keras dan kaku. Namun ketika berada di rumah Mbokwo sikap itu tidak pernah terlihat. Selalu ditampakkan sikap manis, lembut dan terkadang muncul gurauan-gurauan kecil.

Pakwo selalu tidak berdaya berhadapan dengan perempuan. Apalagi kalau sudah terkena, jatuh hatinya. Jangankan larangan-larangan yang disampaikan Mbokwo. Apapun yang menghalangi bakal dilawan. Aturan-aturan baku yang sudah ditetapkan, bahkan sering dianggap sepi. Seperti tidak pernah ada. Kalau hanya harta benda yang diberikan dianggap terlalu sepele.

Apa saja yang menjadi permintaan akan dituruti. Jangankan hanya perhiasan emas picis rojobrono.  Kalau perlu rumah, sawah dan ladang dapat menjadi taruhan. Kalau hatinya tertambat, terkesima dan terpana semua dapat disingkirkan. Semua menjadi kecil di hadapannya. Hanya satu yang memenuhi benak dan kalbunya, bagaimana mendapatkan kesenangan yang bersifat duniawi bersama perempuan dambaan hatinya.

Semua akan diberikan kepada siapa saja yang dapat menentramkan hatinya. Perempuan yang beruntung mendapatkan tempat di hati Pakwo akan memperoleh berbagai kemudahan. Terutama dalam menjalani kehidupan di dunia ini.  Pakwo akan bertekuk lutut di kerling wanita. Siapapun, bagaimanapun dan dalam keadaan apapun. Terlebih ketika perempuan menampilkan wajah sendu, memelas dan menampilkan rona kesedihan. (bersambung)

About redaksi

Check Also

KPDJ & Tradisi Bhakti Sosial

Tinggal dua pekan lagi, hajatan Sahabat Ngopi dan KPDJ, digelar di Anjungan Jogja, Taman Mini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *