ACI-26:  Senange kok Mbebedo Ati

oleh -46 Dilihat
oleh

Perih di hati Indrajit memudar dalam pendar saat Hestirini memberi senyum yang agak berbeda. Senyum tanpa aroma sinis, kali ini. Dan, masih dengan sisa sengal,  tangan Hestirini meraih lengan Indrajit, setengah menarik membawanya meninggalkan depan pasar Wates.

“Ra sah ngambek ngono, ayo dolan,” senyum itu makin mengembang. Senyum yang membuat Indrajit seperti terlempar ke kesilaman ketika hari-harinya sepanjang satu pekan, indah oleh buku yang sengaja ditinggal di laci kelasnya.

“Sliramu ngono terus sih.”

“Ngono piye to?”

“La kuwi, senange kok mbebedo ati.”

“Sopo sik mbebedo, njenengan wae sik ra peka.”

“Ra peka piye jial…”

Percakapan putus-putus. Indrajit masih harus meredakan perasaannya yang bergemuruh. Ia seperti dipermainkan oleh kenyataan bahwa Hestirini terlalu menarik untuk ditinggalkan dalam tumpukan penyesalan masa silam. Bersama itu, ia juga harus mengembalikan rasa cinta yang telanjur dibekukan dan disimpan dalam laci hatinya. Mampukah? Itu yang sedang ia tanyakan pada dirinya sendiri.

“La iki sik marai sebel, terlalu dingin. Jadi bener to yang dikatakan Dik Ana dulu itu,” Hestirini memecah celah, melambatkan langkah, berusaha membuat Indrajit terbangun dari kebekuan.

“Apa kata Dik Ana?”
“Rahasia. Bukan cuma Dik Ana yang ngomong, tapi banyak,” kali ini, Hestirini kembali dengan senyumnya yang disambar ekor mata Indrajit dengan cepat. Pancingannya berhasil melumerkan si batu beku yang sepertinya memang harus selalu dipancing untuk bicara.

“Kita memang harus lebih sering ketemu dan bicara,” Kalimat yang agak panjang itu, diakhiri dengan kepala Hestirini yang menoleh secara patah, mencari wajah Indrajit yang memandang lurus. Ia menanti reaksi pria beku di sampingnya.

“Terus?”

“Eluh, kok jawabe mik terus ki,” seolah menyerah, Hestirini mempercepat langkah. Kali ini, hatinya benar-benar gemetar. Ia tak tahu lagi harus berkata-kata seperti apa agar kebekuan yang menyiksa itu, tak menjebaknya menjadi orang yang ikut-ikutan kaku. Mungkinkah terlampau susah membuat Indrajit memahami perasaannya?

“Sesok aku tak tunggu di tempat tadi. Awas nek ra teko,” Hestirini mengambil buku dari tasnya. Buku yang sudah agak lusuh, karena sudut-sudutnya mulai terlipat kecil-kecil seperti terlalu sering dibuka, ditutup, ditumpuk, dibuka lagi. Setelah memindahkan buku itu ke tangan Indrajit, ia melompat di angkutan yang ngetem di proliman. Dalam sesaat, Indrajit dipaku kaku, sebelum ikut melompat. Lalu, diam panjang.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.