Home / KANGBARNO / Wau Dalu, Angguk Sripanglaras Sukses Tampil dalam Perayaan Ulangtahun SNKP  

Wau Dalu, Angguk Sripanglaras Sukses Tampil dalam Perayaan Ulangtahun SNKP  

Pergelaran Angguk Sripanglaras, tadi malam, menuai sukses besar. Seniman-seniman angguk dari Pripih, Kokap, Kulon Progo ini, tampil maksimal. Seperti diketahui Angguk Sripanglaras memiliki personil para difabel. Terutama para penabuh gamelannya.

Dengan skema pertunjukan yang ketat menerapkan Protokol Kesehatan, penampilan Sripanglaras menjadi puncak perayaan ulangtahun kedua komunitas Sahabat Ngopi Kulon Progo (SNKP). Inilah perkumpulan para perantau Kulon Progo di Jabodetabek yang bergerak di banyak bidang mulai dari sosial, budaya, hingga pemberdayaan masyarakat.

Ketua DPRD Kabupaten Kulon Progo, Akhid Nuryati  rawuh dalam perhelatan ini, dengan memberikan ular-ular yang sangat mengena. Hadir pula Ir Sumarjono MSc, tokoh perantau Kulon Progo kelahiran Dusun Anjir, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo.

“Pertunjukan ini, sangat bagus. Dari sisi acara, digarap dengan baik sehingga protokol kesehatan bisa terjaga karena kita masih harus waspada terhadap virus Covid 19. Selain itu, juga  acara ini juga bagus untuk menghidupkan kembali gairah berkesenian, setelah dua tahun dihentikan oleh wabah,” kata Pak Jono, lulusan SMA Negeri 1 Wates.

Merampungkan kuliah di ITB Bandung dan Oregon State University, USA, Sumarjono merupakan founder Sedulur NKS yang sangat aktif mendukung kegiatan-kegiatan perantau Kulon Progo. NKS merupakan singkatan dari Nami Kulo Sumarjono yang merupakan judul buku biografi pria kelahiran 11 September 1968 ini.

Pada momentum ulangtahun SNKP kedua yang ditandai dengan nanggap Angguk Sripanglaras, Pak Jono juga menegaskan bahwa eksistensi dibangun dari komitmen yang terus-menerus. Eksistensi komunitas seni, tambahnya, sangat membutuhkan komitmen yang tak berhenti untuk terus mengembangkan kemampuan.

“Tidak perlu takut pada keterbatasan. Saya juga wong ndeso yang punya banyak keterbatasan. Terutama keterbatasan ekonomi, karena orangtua saya yang hanya wong nggunung. Tapi saya berkomitmen untuk tidak berhenti bercita-cita,” ungkap Pak Jono yang pernah menjadi salah satu Direksi BPJS Ketenagakerjaan.

Selain mendapatkan motivasi dari Pak Sumarjono, para seniman dan penggiat komunitas SNKP juga memperoleh tambahan semangat dari Bu Akhid. Ketua DPRD yang akrab dengan para perantau Kulon Progo di Jabodetabek ini, menggarisbawahi perlunya ikut peduli memikirkan kemajuan Kulon Progo.

Pentas Angguk Sripanglaras yang sangat spesial tadi malam, memang memberi arti tersendiri bagi Sahabat Ngopi Kulon Progo. Selain dirawuhi Bu Akhid dan Pak Jono, hadir pula tokoh-tokoh masyarakat setempat mulai dari Pak Dukuh, Pak Carik dan Pak Lurah.

“Pentas ini, menjadi persiapan sebelum diberi panggung yang lebih luas di Jakarta. Menurut Rencana SNKP, KPDJ, dan Sedulur NKS akan membawa Angguk Sri Panglaras mentas di Anjungan Jogja TMII. Tapi waktunya masih dicari yang pas, apalagi, situasi pandemi yang belum mereda,” jelas Mbah Yatno Alimonsa.

Penampilan di Pripih, juga dilakuan dengan protokol kesehatan yang cukup baik. Penonton dibatasi, sehingga dipastikan tidak ada kerumunan. Waktu mentas juga terbatas hanya beberapa jam saja,  dan selesai sebelum tengah malam. “Sengaja digelar pada malam hari, agar tidak terlalu mbludag penontonnya,” tambah Mbah Yatno.

Angguk Sri Panglaras, termasuk angguk yang memiliki nama. Apalagi, dengan personil yang sebagian memiliki keterbatasan, membuatnya mampu tampil di banyak acara. Undangan untuk manggung, juga tak terhitung, oleh sebab penonton penasaran dengan ketrampilan para difabel yang bertalenta layaknya seniman yang memiliki fisik normal.

Dipimpin oleh Pak Rajiyo dan Bu Sri, angguk Sri Panglaras pantas mendapat tepat yang pas di hati penggemar angguk. Apalagi, tarian ini sudah sangat identik dengan Kulon Progo, meski jika dilacak akar sejarahnya, tidak berasal dari Kulon Progo.(kib)

About redaksi

Check Also

Berburu Emas di Bukit Menoreh

Nama Bukit Menoreh tidak hanya populer namun juga melegenda di kalangan masyarakat Yogyakarta pada umumnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *