Tuku Manuk Nang Pasar Nggawok

oleh -11 Dilihat
oleh

Langkah kaki, kembali menginjak bumi geblek. Wates, sudah terlalu lama aku tinggalkan. Dan, kini, aku ada di Pasar Nggawok, pasar yang sangat melegenda sejak zaman dahulu kala. Ke tempat inilah jika orang Kulon Progo menyebut mau Wagean. Pasar yang memang selalu ramai di hari pasaran Wage.

Aku mau beli manuk. Tuku manuk buat klangenan simbok dan bapak di Jombok yang semakin kesepian berdua, setelah anak-anaknya tak ada yang betah di rumah. Tapi rupanya, hari ini, pasarane Kliwon, jadi tidak terlalu ramai. Penjual manuk juga hanya satu-dua yang buka, selebihnya yang terlihat hanya kurungannya, menggantung-berderet, seperti seni instalasi di sebuah galeri di Jogja.

“Mangke Jemuah tindak mriki maleh, pas Wagean, bakul manuk ramai,” kata Mase bakul kepang, ramah. Aku tersenyum mendapati keramahana yang sudah lama tak mampir menghampiri seperti ini.

Ya sudah. Aku berlalu. Langkah dibawa ke depan, menuju pintu terminal. Ya, terminal Wates yang legendaris itu. Terminal kecil yang rasanya semakin mungil, berbeda dengan saat aku masih sekolah di SMA, rasanya terminal ini besar, sibuk, serta banyak orang turun atau naik bis.

Banyak yang bisa dikenang di terminal ini. Misalnya saja, pernah aku diinterogasi petugas, dimasukkan ke sebuah ruangan, ditanya macam-macam. Saat itu, yang menjadi soal, terlalu lama nongkrong di terminal. Sampai sore, malah. Tidak sendirian, tapi berdua. Bersama ‘seseorang’ yang entah sekarang ada di mana.

Di saat lain, kenangan yang muncul adalah peristiwa aneh sepulang dari STM. Hari sudah sangat sore, terminal sudah senyap. Tidak ada angkutan sama sekali, kecuali bis-bis besar dari Jogja menuju Purworejo yang tidak lagi masuk  terminal, tapi langsung bablas di jalanan di depan teriminal. Saat itu, aku juga bersama ‘seseorang’ tapi seseorang yang lain lagi.

Kaki terus melangkah. Terimanlnya sudaha berubah. Kantor Dishub tidak lagi di ruangan di tengah-tengah terminal yang saat ini hanya ada deretan bangku calon penumpang. Aku duduk begitu saja di salah satu bangku itu. Kira-kira persis tempat aku duduk bersama ‘dia’ yang waktu SMA namanya hits.

Ah, terlalu banyak kenangan yang berseliweran di sini. Aku beranjak, meninggalkan terminal. Mending menyusuri jalan lain yang lebih melegakan. Tapi ya ampun, nyaris semua jalanan di Wates memberi bekas yang tidak mudah dibusek. Banyak nama berlintasan. Ada Rini, Diah, Fitri, Sih, Ratna.

Sebelum beranjak tadi, di kios jajanan, aku melihat ada bungkus jenang dodol. Dalam sekelebatan, muncul nama Dik Minar yang dulu leluhurnya pembuat jenang di wetan pasar Wates. Ah, mumet dewe ndasku.

Memang, banyak yang harus ditinggalkan di Terminal Wates yang oleh orang-orang sering juga disebut sebagai Terminal Nggawok. Sebuah nama yang bisa dikonotasikan sangat mesum, meski bagi orang Wates memang itulah nama yang dulu sangat populer.(kib)

Responses (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.