Home / DWIDJO / Telo Gantung Jadi Produk Unggulan Desa

Telo Gantung Jadi Produk Unggulan Desa

Ngaglik, Koranpelita.com

Telo gantung yang umum dikenal sebagai pepaya diharapkan menjadi produk unggulan desa. Selama ini pepaya hanya dikonsumsi sebagai sayuratau buah yang matang.

Lomba Masak Olahan Pepaya dalam rangka menjaring produk unggulan desa Donoharjo, berlangsung di Embung Jetis Suruh, Donoharjo Ngaglik Sleman, Ahad 27 September 2020.

Acara ini diikuti 23 peserta lomba yang berasal dari 16 padukuhan di wilayah Donoharjo dan diselenggarakan oleh G2RT (Global Gotong Royong Tetrapreuner) Donoharjo yang berperan sebagai motor penggerak BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Sri Taman Rejeki Donoharjo.

Yunus ketua G2RT Donoharjo mengungkapkan bahwa dipilihnya pepaya sebagai komoditas unggulan karena buah tersebut merupakan buah yang sangat populer di masyarakat, relatif mudah ditanam, dan merupakan bahan pangan dengan nilai nutrisi yang tinggi, banyak manfaatnya serta bisa diolah menjadi aneka macam varian produk turunan, di samping itu desa Donoharjo sangat cocok baik iklim maupun tanahnya untuk budidaya menanam pepaya, hal ini terbukti dengan banyak petani yang menanam pohon pepaya sebagai tanaman utama. Dengan produksi yang melimpah diperlukan diversifikasi usaha agar pepaya bukan saja dikonsumsi berupa buah segar tetapi juga berupa produk2 turunan nya.

“Pada tahap awal G2RT Donoharjo menentukan manisan pepaya dan Abon pepaya sebagai test pasar untuk melihat sejauh mana pasar bisa menyerap produk yang telah familier dan disukai oleh masyarakat tersebut. Pada tahap berikutnya akan ada produk turunan lainnya yang akan diluncurkan” tambahnya.

Llebih lanjut ia mengatakan “Karena manisan dan abon merupakan produk perkenalan maka kualitas harus baik dalam hal pemilihan bahan baku, citarasa, tekstur, kemasan dan masa kedaluwarsanya. Oleh karenanya, pada kesempatan tersebut parameter ini yang akan diunggulkan dengan harapan kualitas akan terjaga ketika sudah beredar di pasar. Bila yang pertama telah memberi kesan baik maka produk turunan pepaya yang lain akan menembus pasar dengan mudah.

Yunus mengatakan bahwa G2RT dan BUMdes Sri Taman Rejeki Donoharjo akan mengakomodasi usaha dari hulu ke hilir dengan merangkul para petani penanam dan peserta lomba olahan pepaya menjadi mitra usaha yang nantinya akan dibekali keterampilan dan bantuan pemasaran agar hasilnya maksimal.

Panewu Ngaglik, Subagyo, dalam sambutannya sangat mengapresiasi G2RT Donoharjo dan BUMdes Sri Taman Rejeki yang berupaya memberi nilai tambah terhadap suatu bahan dengan harapan nanti akan menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat setempat.

Sejalan dengan Panewu Ngaglik, Kades Donoharjo Hadi Rintoko mengungkapkan kebanggaannya akan semangat dan antusiasme para peserta lomba yang telah mencurahkan kreativitas dan inovasi produk manisan dan abon pepaya menjadi produk unggulan desa Donoharjo.

” Selama ini wisatawan berasumsi jadah tempe identik dengan kaliurang,, Sleman dengan salak, maka suatu saat pepaya segar, manisan,abon dan produk turunan dari pepaya identik dengan Donoharjo.” ungkapnya. (Upik Wahyuni/KIM Ngaglik)

About dwidjo

Check Also

Saber Budaya Menoreh Kedah Mbangun Pariwisata Kulonprogo

Yogyakarta, Kabarno.com Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemprov DIY) melalui Dinas Pariwisata Provinsi, memyambut baik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *